Bambang menuturkan, Kartu Tani merupakan alat transaksi berupa kartu debit yang dapat digunakan untuk membeli pupuk bersubsidi. Kartu Tani dapat digunakan untuk memonitor penyaluran pupuk bersubsidi yang anggarannya menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Secara Umum Kartu Tani adalah merupakan alat untuk membantu petani dalam menjalankan kegiatannya, seperti untuk mendapatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR), penyediaan pupuk, hingga pengumpulan hasil panen.
“Sementara itu, untuk saat ini kuota pupuk subsidi di 2021 meningkat sekiranya lebih dari 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, peningkatan itu berasal dari usulan di RDKK. Seperti jenis Urea sebesar 2.150 ton, NPK sebesar 3.260 ton. ZA sebesar 120 ton, SP-36 sebesar 106 ton dan organik sebesar 3.364 ton,” jelasnya.
Ia melanjutkan, kuota terbanyak akan disalurkan ke Kecamatan Talisayan dan Teluk Bayur. Ia mengatakan, beberapa waktu lalu, datang sekira 2 ribu kartu tani di Talisayan. Baru dikoordinasikan dengan salah satu bank dan korlapnya. Diakui Bambang, untuk penyaluran kartu pihaknya terkendalanya di pembatasan berkumpul karena sedang berada dalam masa PPKM.
“Kita tidak bisa banyak-banyak kumpulkan orang,” singkatnya.
Kartu Tani ini sendiri, bertujuan untuk penebusan pupuk subsidi, kalau ada bantuan dari pemerintah pusat kartu itu bisa digunakan. Misal, kelompok tani A mendapatkan bantuan dana melalui rekening itu, jadi kartu beserta rekeningnya itu. Jadi untuk dana pribadi bisa. Bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga bisa.
“Kartu tani ini yang bukakan rekening dari pusat. Jadi kartunya dan rekeningnya ada. Tapi saldonya tidak ada. Yang ada kuota pupuk, dalam setahun mereka itu habis berapa kuintal, ada semua datanya di situ,” bebernya.
Sementara itu, salah seorang petani yang menerima kartu tani, Laruddin menuturkan dengan adanya program kartu tani dapat membantu para petani sebab memberikan harga yang lebih murah sehingga dapat menekan ongkos produksi.
“Kalau pake kartu tani bisa mendapat harga pupuk lebih murah, biasanya kita beli seharga Rp 130 ribu per kilogram, tapi nantinya bisa mendapatkan harga Rp 115 ribu per kilogram,” tuturnya.
Ia mengaku, kendala yang saat ini kerap dihadapi adalah ketersediaan pupuk subsidi yang masih terbatas. “Kadang pagi datang, malamnya sudah habis, kalau pupuk non subsidi kita petani kecil butuh berfikir dua kali karena harga yang lebih mahal,” pungkasnya.
Penulis : Tri Romadhani
Editor : Bambang Irawan