"Sehingga lebih bisa diawasi dan lebih bisa disuplai kebutuhannya. Sehingga bisa lebih cepat sembuh dan tidak menularkan ke orang lain," jelas Iswahyudi, Selasa (10/8/2021).
Ia berpesan, kepada masyarakat apabia tidak ingin di lingkungannya banyak terdapat penyebaran maka harus disiplin menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes) dan harus saling jaga, apabila ada anggota masyarakat yang positif harus ditolong bukanya malah diusir.
"Kalau pasien isoman butuh, ya tetangganya yang harus menolong, yang lain tidak perlu takut, tetapi harus waspada," tutur Iswahyudi.
Ia mengungkapkan, masing-masing kecamatan sudah mencanangkan lokasi isoter, ada yang di gedung serba guna maupun di sekolah.
Menurutnya, memang pengadaan lokasi isoter tidak semudah di ibukota provinsi. Kalau di ibukota punya bangunan yang memiliki banyak kamar, apakah itu wisma atlet atau lain sebagainya, sedangkan di kabupaten tidak banyak bangunan seperti itu.
"Kalau misalkan bangunan Gelanggang Olah Raga (GOR) kita fungsikan sebagai tempat isoter, apabila tidak ditangani dengan baik akan banyak timbul masalah," katanya.
Ia mencontohkan, masalah pertama apabila orang yang sudah hampir sembuh dan orang yang sedang parah bisa tercampur. Kedua masalah Mandi Cuci Kakus (MCK) itu kalau tidak ditangani dengan tepat akan menjadi sumber penyakit.
"Makanya agak lama mempersiapkan lokasi isolasi mandiri di kecamatan karena memang dibutuhkan persiapan yang matang. Tapi memang hal ini perlu dilakukan," pungkasnya.
Penulis : Tri Romadhani
Editor : Bambang Irawan