Dikatakan Jen, upaya peralihan kapal tersebut saat ini sudah diterapkan oleh beberapa nelayan di Bumi Batiwakkal, terutama nelayan yang berada di Kecamatan Maratua dan Pulau Derawan.
“Kami masih mendukung dan mengimbau untuk peralihan jenis kapal nelayan ke jenis fiber, karena kebanyakan saat ini masih menggunakan jenis kapal kayu,” papar Jen.
Peralihan bahan kapal menjadi fiber itu juga diharapkan mampu menekan penggunaan kayu, yang menurutnya saat ini jumlahnya sudah mulai berkurang.
“Sumbernya kan sudah tidak begitu banyak seperti dulu dan nantinya pasti ada efek jangka panjang jika kayu terus ditebang,” sebut Jen lagi.
Penggunaan kapal fiber menurutnya memiliki perawatan yang jauh lebih mudah. Dengan bobot yang lebih ringan, penggunaan kapal fiber bisa bergerak lebih cepat sehingga akan menghemat biaya untuk bahan bakar meski penggunaan kapal fiber gampang goyang.
Karena itu nelayan disarankan agar beradaptasi dan harus terbiasa terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk beralih ke kapal fiber. Ia mengaku pihaknya tidak memaksa nelayan untuk langsung mengganti alat utama untuk pekerjaan mereka, tetapi masih berupa imbauan, sebab diakui banyak keuntungannya.
“Untuk mengajak ini kan sifatnya tidak begitu mudah, kami sarankan memang perlahan saja dan harus ada kemauan dari nelayan itu sendiri. Ada yang menerima, ada juga yang masih bertahan dengan kapal kayu,” ungkapnya.
Sementara itu, untuk mendorong perubahan tersebut, pihaknya sudah mengusulkan baik kepada pemerintah daerah maupun pusat melalui Dana Alokasi Khusus ataupun Dana Bantuan untuk membantu nelayan dengan memberikan kapal berbahan fiber.
“Itu masih usulan, untuk harga kapal kan juga tidak murah. Semoga saja bisa lekas terealisasi,” pungkasnya.
Penulis : Tri Romadhani
Editor: Aspian Nur