“Sebenarnya menurut data yang saya pegang hari ini ada 14 ekor sapi, tapi tiba-tiba datang beberapa ekor, dan itu juga harus tetap kami layani. Untuk besok yang terdata ada sekitar 8 ekor di tahun-tahun sebelumnya maksimal hanya 15 ekor,” kata Nanang Selasa (20/7/2021) siang tadi kepada korankaltim.com.
RPH cukup kewalahan dengan semua kegiatan pemotongan karena hanya memiliki sekitar 8 pekerja, mau tidak mau harus merekrut orang-orang diluar staf.
“Ditambah dengan panitia kurban dari berbagai wilayah yang melakukan pemotongan disini saja kami masih kewalahan,” jelas Nanang.
Seperti yang dianjurkan pemerintah, pusat pemotongan hewannya dilakukan di RPH. Setelah hewan tersebut disembelih, dikuliti, dibagi dan dicincang tulangnya, kemudian panitia kurban diminta untuk membawa daging tersebut ke daerahnya masing-masing.
“Tidak ada proses mengemas atau menimbang daging kurban disini. Jadi pengemasan dan pembagian dilakukan di lokasi masing-masing panitia kurban,” ujar Nanang.
Proses akhir di RPH hanya sampai daging siap dikemas, hal tersebut bertujuan untuk mengurangi kerumunan. Kemudian untuk proses pemotongan sendiri kita berlakukan protokol kesehatan yang sangat ketat. Dari masing-masing panitia kurban yang diperbolehkan masuk hanya lima orang, sisanya menunggu diluar.
“Jadi yang berkurban kan juga disunnahkan untuk menyaksikan, tapi setelah itu kami arahkan untuk keluar, selain kami dari phak RPH dan panitia kurban tidak boleh ada yang masuk agar tidak terjadi kerumunan di dalam ruangan,” jelas Nanang lagi.
Kendala terbesar yang dihadapi oleh pihaknya adalah keterbatasan air yang tersedia di RPH.
“Setiap kali melakukan kegiatan pemotongan lebih dari 12 ekor kami akan dipusingkan dengan ketersediaan air,” tutup Nanang
Penulis : Tri Romadhani
Editor: Aspian Nur