Sebelum Covid-19 melanda, sebulan sebelum Hari Raya Iduladha Asri yang berjualan di Jalan H Isa, Kecamatan Tanjung Redeb, Berau ini, bisa menjual hingga 30 ekor sapi dan kambing, namun hingga saat ini baru sekitar 15 ekor sapi dan kambing yang terjual.
“Memang pengaruh corona ini, kalau tahun-tahun sebelumya ramai, sebulan sebelum Hari Raya bisa separuh lebih dari stok sudah terjual. Tapi dari 2020 lalu langsung menurun drastis,” ujar Asri. Ketersediaan hewan kurban sendiri masih mencukupi, baik saat ia membeli dari luar pulau maupun di Berau sendiri.
Sehingga tidak berpengaruh ke harga jual yang masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. “Untuk stok saya datangkan dari Sulawesi. Harga masih sama, untuk sapi sekitar Rp18 juta sampai Rp30 juta sedangkan kambing saya jual dari Rp3 juta sampapi Rp5 juta tergantung besar kecilnya ukuran hewan,” jelasnya.
Terkait kesehatan hewan sudah dapat dipastikan bebas dari penyakit, sebab sebelum pengiriman maupun tiba di Berau hewan-hewan tersebut telah diperiksa oleh dokter hewan dari Dinas Pertanian dan Peternakan.
“Cuma tempo hari saya minta label yang menjelaskan hewan yang saya miliki sudah dinyatakan sehat, hingga saat ini belum diberikan. Tapi yang penting bagi saya sudah diperiksa dan dinyatakan sehat, jadi terbebas dari penyakit seperti antraks dan lainnya,” kata Asri lagi.
Asri berharap pemerintah dapat segera menangani penyebaran Covid-19 khususnya di Kabupaten Berau, karena menurutnya wabah ini bukan hanya berdapak pada sektor pariwisata tetapi dirinya pun juga turut merasakan dampak terganggunya ekonomi akibat Covid-19.
“Saya memang penduduk asli Berau merasakan dampaknya bukan hanya pada saat menjelang Hari Raya Iduladha. Sehari-hari saya juga berjualan di Pasar Sanggam Adji Dilayas (PSAD) juga merasakan sepinya pembeli,” tutup Asri.
Penulis : Tri Romadhani
Editor: Aspian Nur