Wakil Bupati Berau, Gamalis memimpin rapat bersama instansi terkait, dalam rapat tersebut Gamalis menekankan agar panitia bersama dengan Dinas Pendidikan lebih memperhatikan soal ijazah yang banyak menjadi sorotan pasca pelaksaan Pilkakam.
Ia menerangkan, ijazah calon kepala kampung kerap menimbulkan polemik di masyarakat. Ia meminta panitia agar lebih selektif, teliti dan jangan mudah memberikan legalitas jika ijazah yang bersangkutan bermasalah.
“Yang kerap terjadi itu, ijazah non formal, sering menjadi masalah,” jelasnya pada Koran Kaltim. Ia melanjutkan, hal teknis yang juga menjadi sorotan adalah kesiapan panitia pemungutan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS) masing-masing kampung. Karena, satu TPS hanya boleh untuk maksimal 500 masyarakat. jika terjadi 500 + 1 maka akan dibangunkan TPS baru.
“Itu juga penting, karena saat ini masih suasana pandemi,” lanjutnya. Lebih lanjut, Gamalis mengatakan, hingga kini dari 28 kampung tersebut, tidak ada titik rawan, hanya yang menjadi perhatian adalah calon yang akan maju, apakah memenuhi syarat, dilakukan pengecekan ijazah dan sebagainya. “Itu yang terpenting, jangan sampai terjadi timbul permasalahan,” katanya.
Ia menuturkan, panitia dituntut profesional dalam menjalankan amanah. Pilkakam ini nyaris seperti pemilihan kepada daerah (Pilkada), mulai dari tahapan, hingga pencoblosan. Semua tahapan harus dilakukan dengan protokol kesehatan (Prokes) yang ketat. Agar tidak terjadi klaster Pilkakam. “Saya tegaskan, agar panitia lebih bisa menjaga warga agar mentaati prokes,” ucapnya.
Ia tidak menampik, karena waktu yang terbatas dalam pencoblosan, yakni hanya sampai pukul 12.00 wita, membuat animo masyarakat pasti membludak. Hal ini menurut Politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tersebut, harus menjadi poin penting. Bagaimana sistemasi penerapan di lapangan agar prokes berjalan lancar.
“Melakukan antisipasi terhadap munculnya permasalahan, baik pra pilkakam, hingga pasca pilkakam. Tidak hanya di sisi keamanan, namun juga Covid-19, dipastikan akan terjadi perkumpulan massa, karena waktu yang terbatas. Hanya sampai jam 12 siang,” tuturnya.
Penulis : */Tri Romadhani
Editor : Bambang Irawan