Situasi ini harus menjadi perhatian seluruh masyarakat. Pasalnya kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Berau masih bisa terjadi peningkatan sewaktu-waktu.
“Ya, kasus kematian bertambah dan sudah melebihi angka 100,” kata Iswahyudi Selasa (1/6/2021) hari ini kepada korankaltim.com.
Kasus kematian tersebut disebabkan oleh keterlambatan pasien tiba ke fasilitas kesehatan sehingga pasien dengan kondisi berat dan mengalami keterlambatan penanganan.
“Bukan tenaga kesehatan yang terlambat memberikan penanganan tapi karena pasien telat sadar dirinya terpapar corona,” jelasnya.
Hal seperti itu cukup sering terjadi. Bahkan, masih banyak masyarakat yang takut ke rumah sakit untuk memeriksakan keluhannya dengan alasan, takut di-Covid-kan.
“Saya tegaskan, kami tidak ada keuntungan jika menyatakan seseorang terpapar Covid-19. Toh, orang dikatakan terkonfirmasi juga harus melalui rangkaian pemeriksaan,” tegas Iswahyudi.
Dokter spesialis paru RSUD dr Abdul Rivai Robert Christian Naiborhu secara terpisah mengatakan, kematian penderita Covid-19 sebagian besar dengan komorbid atau penyakit penyerta.
“Pasien dengan keadaan yang sudah berat sebelumnya terinfeksi sehingga keadaan umum menjadi lebih berat,” jelas Rivai.
Kalau terlambat dibawa sehingga sudah terlalu berat, tingkat keparahan semakin tinggi sehingga kesulitan pengobatan juga semakin tinggi.
Banyak juga yang memiliki komorbid bisa selamat, semua tergantung pada keadaan saat masuk ke perawatan.
"Rata-rata sekarang masuk ke rumah sakit sudah dengan kondisi berat. Masyarakat mungkin memilih karantina mandiri di rumah, sudah berat baru mau ke rumah sakit untuk periksa,” paparnya.
Saat ini ada 31 pasien yang menjalani perawatan di ruang isolasi Covid-19 RSUD dr Abdul Rivai, empat diantaranya memiliki kondisi yang cukup berat dan sisanya gejala sedang.
Penulis : Tri Romadhani
Editor: Aspian Nur