Mogok produksi tahu dan tempe ini dilakukan bukan tanpa alasan, karena PPTT protes atas tingginya harga kedelai yang terus melambung.
"Berdasarkan kesepakatan bersama, harga akan kami naikkan tapi tidak diatas 20 persen dan hari Kamis sampai Jumat kami tetap mogok produksi," kata anggota PPTT Sugi ditemui korankaltim.com usai pertemuan.
Menanggapi hal tersebut Kepala DKUKMP Asdar Ibrahim menjelaskan, pemerintah menyadari permasalahan selama ini dimana bahan baku masih didatangkan dari luar negeri.
"Harga terus melonjak sejak pandemi April dan Mei 2020 tahun lalu, karena itu langkah pemerintah akan menyesuaikan dari hasil rapat dengan menimbang masukan masukan hasil pertemuan dengan pihak PPTT," kata Asdar.
DKUKMP juga menegaskan kalau nantinya bahan baku terus menanjak diharapkan kenaikan harga jual tempe dan tahu tidak melebihi dari harga yang ditetapkan pemerintah. "Jika ada kenaikan dipastikan tidak melebihi kapasitas kemampuan masyarakat," harap Asdar.
Terpisah, anggota DPRD Bontang Bakhtiar Wakkang mengungkapkan keprihatinannya dengan kondisi yang dihadapi pengusaha tahu dan tempe di Kota Taman.
"Seharusnya Pemerintah Kota Bontang segera menyikapi kondisi ini dengan upaya koordinasi dengan seluruh stakeholder yang berkepentingan," kata Bakhtiar.
Hal ini harus segera dilakukan sebagai solusi atas permasalahan naiknya harga tempe dan tahu di pasar. "Kalau perlu lakukan operasi pasar dan sediakan bahan baku tambahan untuk menekan harga," tegas Bakhtiar.
Penulis : Muhammad Ridwan
Editor: Aspian Nur