“Kalau dari hasil uji labroratoiumnya aman,” sebut Sujadi. Hasil analisa di tiga titik pengambilan sampel air di areal tambang PT RUB diantaranya sampel di titik pertama pH nya berkisar 7.24. untuk titik kedua pH airnya berukuran 7.57, dan titik ketiga pH nya berkisar 7.97.
“Sementara untuk TSS (Total Suspended) di titik pertama 376, titik kedua 389, dan titik ketiga 296. Untuk titik pertama dan kedua kadar TSS nya masih melebihi 300,” jelasnya.
Kemudian untuk sampel Sungai Kelay yang diambil di luar areal tambang, atau di wilayah hulu atau sekitar Kampung Bena Baru pHnya beriksar 8.08.
di sekitar kampung Inaran pHnya 7.40, dan di wilayah hilir tepatnya di sekitar Kampung Pegat Bukur pH nya 7.50, Sementara untuk TSS di Bena Baru 140, Inaran 91, dan TSS di Kampung Pegat Bukur 136. “Itu baku mutunya 300 jadi masih aman. Kalau pHnya 6 sampai 9 itu normal. Jadi untuk sementara ini kandungan airnya masih aman,” jelasnya.
Dampak dari bencana banjir tidak hanya ada pada sektor ekonomi, tetapi juga dari segi kesehatan seperti gatal. Namun ia memastikan penyakit gatal bukan diakibatkan oleh air yang berasal dari pit tambang. “Biasalah kalau pasca banjir pasti timbul gatal-gatal, tapi penyakit ini tidak ada hubungannya dengan air yang keluar dari tambang,” sebut Sujadi.
Dengan jumlah debit air yang banyak, kandungan yang berada di dasar tambang belum naik ke permukaan. Apabila nanti telah surut, pihak perusahaan akan melakukan pengamanan air yang mungkin akan keluar dari pit tambang. “Air akan diolah sebelum dibuang sehingga sesuai dengan baku mutu,” jelasnya. Perlu dilakukan kajian kembali tentang batas pertambangan dengan sungai.
Batas aman antara pit tambang dengan sungai maupun pemukiman adalah 300 meter. “Batas antara pit dengan sungai kan sudah jauh dan sesuai ketentuan yakni 500 meter, tapi ternyata masih terjadi musibah jebolnya tanggul, ini menandakan banjir tahun ini lebih besar dibanding dengan tahun-tahun yang lalu,” tutupnya.
Penulis : Tri Romadhani
Editor: Aspian Nur