Purwodadi.
Dia mengharapkan, ke depan Kubar tidak lagi memasok bawang merah dari luar daerah. Karena dengan budidaya bawang merah dengan meluaskan lahan pertanian oleh petani, maka Kubar akan surplus persediaan bawang merah ke depan. “Sehingga Kubar bisa menghasilkan bawang merah sendiri. KTNA akan sinergitas dengan pemerintah provinsi, kabupaten, bahkan pusat. Melalui uji coba dibeberapa kecamatan, se-Kubar kultur tanah sangat cocok budidaya bawang merah,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian Kubar Nanang Adriani yang juga hadir saat itu mengakui, potensi lahan di Kubar mendukung pengembangan budidaya bawang merah. “Fungsi Balai Penyuluh Pertanian (BPP) menggerakkan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) bersinergi dengan petani. PPL harus berperan aktif
menyuluh, membimbing, dan memantau petani,” ungkapnya.
Nanang menambahkan, Dinas Pertanian Kubar akan menjadikan momen panen bawang merah itu sebagai telaahan dalam pengembangan tanaman sayur (Olerikultura) atau sayuran semusim itu, sebagai salah satu potensi besar masa depan petani Kubar. “Dinas Pertanian mendukung potensi pengembangan bawang merah di Kubar. Akan saya bicarakan bersama Pak Kadis Pertanian. Ke depan bisa
didukung petani melalui APBD atau dana CSR. Sesuai harapan Pak Bupati FX Yapan, dalam menanam sayur dipekarangasn rumah,” tuturnya.
Kepala BPP Kecamatan Linggang Bigung, Inalti, menyebut pendampingan PPL ke lapangan bersama petani. Kendala pengembangan bawang merah di Kubar kata dia, petani belum menguasai ilmu bertanam bawang merah. “Bibit bawang merah sukar didapat, harus dikirim dari Jawa. Tapi sekarang petani mulai mengembangkan bibit sendiri di Kubar,” pungkasnya.
Dwi Widodo Irianto (52) warga Kampung Purwodadi yang sudah empat kali panen bawang merah, mengaku untung lumayan bertani bawang merah itu.
Lahan miliknya yang ditanami bawang merah seluas 25X40 meter. Dengan bibit sebanyak 25 kg, panen menghasilkan 600 kg bawang merah. Awalnya dia mendapat pasokan bibit dari KTNA yang dikirim dari Pulau Jawa. Tapi saat ini dia membudidayakan bibit sendiri secara lokal di Kubar. “Masa tanam maksimal 60 hari, sudah bisa di panen. Saya menjualnya di Kubar dan Mahulu per kg Rp 30 ribu. Itupun ludes, saya kewalahan karena banyak yang mencari bawang asli Kubar ini.,” terangnya.(imr)