Bupati Berau H Muharram yang juga Ketua Tim Gugus Tugas juga tak setuju rencana RDT massal yang dinilai tujuannya tidak jelas.
"Kita tidak mau melakukan tes massal yang berakibat munculnya kegaduhan baru sementara hasil dari rapid test sendiri serba tanda tanya,"ungkap Muharram, Selasa (16/6/2020)
"Hasil rapid test itu membuat was-was yang bersangkutan, dan secara psikologi tidak nyaman juga untuk lingkungan dan keluarganya," jelasnya.
Lanjut Muharram mengatakan, dari pada menciptakan kegaduhan baru, lebih baik itu tak usah digelar.
"Dengan demikian, lebih baik alat RDT diprioritaskan hanya untuk mahasiswa atau pelajar yang akan keluar dari Berau untuk melanjutkan pendidikan,"tegasnya.
Kepala Dinas Kesehatan Berau Iswahyudi menambahkan, RDT tidak jadi dilakukan dengan pertimbangan panjang.
Selain itu, kesiapan alat swab jadi kendala sehingga jika dipaksakan untuk rapid test massal dapat menimbulkan masalah di masyarakat.
"Rapid massal memang kita tidak jadi laksanakan kerena pertimbangan yang panjang termasuk kesiapan dari swab. Menerima hasil swab cukup panjang waktunya sehingga bisa memberi dampak sosial yang timbul di masyarakat,"ungkapnya.
Lanjut Iswahyudi, RDT akan diprioritaskan untuk mahasiswa atau pelajar asal Berau yang akan kuliah ke luar daerah.
"Kita selektif, dan mahasiswa kita akan atur yang menangani Labkesda bersama Dinas Kesehatan, nanti kita susun syaratnya jadi yang RDT gratis memang betul-betul mahasiswa bukan orang pelaku perjalanan,"pungkasnya.
Penuli: Indra
Editor: M.Huldi