"Dari hasil tersebut beredar kabar di kalangan karyawan maupun masyarakat, dan kebanyakan informasi yang tersebar itu tidak tepat, dan menimbulkan keresahan," terangnya, Minggu (3/5/2020).
SMS dikabarkan sempat keluar dari wilayah Berau. Ternyata tidak benar. Pasalnya selama kurang lebih 2 minggu atau lebih tepatnya 26 Maret hingga 8 April, SMS hanya menjalani cuti lokal dan berada di Berau saja.
"SMS tersebut benar jika dia merupakan karyawan PT BUMA Site Binungan-Suaran, dan yang bersangkutan sebelumnya dari 26 Maret hingga 8 April 2020 itu melaksanakan cuti lokal," tegasnya.
Sedangkan untuk mengantisipasi penyebarannya, sejumlah karyawan PT BUMA yang pernah kontak langsung dengan pasien sementara waktu masih menjalani masa karantina secara mandiri di rumah masing-masing.
"Ada sebanyak 87 orang yang karantina, 85 karantina mandiri di rumah masing-masing dan 2 orang lainnya di mes perusahaan," ujarnya.
Menanggapi itu, Kepala Dinas Kesehatan Berau Iswahyudi mengatakan langkah yang diambil dari pihak perusahaan sudah sangat baik untuk melaporkan kejadian tersebut dan melakukan antisipasi dini.
"Jadi saya cuma menambahkan, pasien atas nama SMS ini kondisinya relatif bagus, begitu pula pasien positif lainnya. Tapi masih menunggu hasil sampel laboratorium yang sudah dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya," timpalnya.
Di sisi lain, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara, Bambang Gatot Ariyono MM menjelaskan, tambang industri strategis yang masuk ke dalam pengecualian penutupan operasional yaitu pada saat PSBB saja.
"Karena tambang batu bara bertanggung jawab dalam memberi pasokan energi untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dan listrik untuk infrastruktur medis, supaya tetap bisa melakukan penanganan saat darurat seperti sekarang ini," tutupnya.
Penulis: Indra
Editor: Hendra