Mereka menyatakan sikap untuk menolak masuknya ritel modern seperti Alfamidi hadir di Berau.
Menurut Ketua FPS, Wahyu, di Berau cukup dengan pedagang dan distributor lokal saja untuk menyuplai sembako.
Kehadiran swalayan seperti Alfamidi bisa mengancam perekonomian pedagang kecil bahkan bisa mematikan pedagang lokal.
"Perlu adanya kesepakatan bersama kita sebagai pedagang lokal Berau untuk menolak masuknya Alfamidi di Berau. Karena, keberadaan ritel modern nasional masuk Berau akan memberikan dampak luar biasa bagi pedagang lokal yang mencapai ratusan pedagang. Bukan kita takut, namun bersaing harga dan modal, kita tentu kalah,"terangnya saat menggelar pertemuan di Family Cafe, Jl Pulau Semama, Berau, Senin (15/7/2019) sekitar pukul 16.30 WITA.
Ditambahkan oleh pengurus FPS lainya, Joko, perwakilan pedagang sudah bertemu dengan Bupati Berau, H Muharram. Ada beberapa poin yang disampaikan Muharram yaitu bupati belum mengetahui jelas adanya ritel Alfamidi masuk ke Berau. Setelah dicek ke Dinas Perizinan, tidak juga menemukan legalitas yang resmi.
Bupati mengaku tidak menolak kehadiran investor masuk ke Berau. Hanya saja, semua harus mematuhi ketentuan serta perizinan yang berlaku. Untuk perizinan itu kewenangan dina terkait. Sesuai kesepakatan wajib satu pintu dan bupati akan mempelajari aturan terkait ritel modern tersebut.
"Melihat dari poin-poin yang diberikan Pak Bupati ini, tidak ada kepastian yang diberikan ke kita sebagai pedagang terkait tuntutan kita yaitu untuk tidak memberikan izin buka ritel modern tersebut,"tegasnya.
Ketua HIPMI Berau, Wendy Lie Jaya atau dikenal Koh Bali pada kesempatan itu menyampaikan, kehadiran HIPMI dalam hal ini hanya sebagai pendamping para pengusaha sembako lokal.
"Kita akan bawa permasalahan ini ke wakil rakyat yang meminta agar operasional Alfamidi bisa dihentikan. Terkait perizinan yang sudah ada, tentu saja tidak akan bisa dicabut lagi. Namun tetap kita perjuangkan jangan sampai mereka merambat ke seluruh Berau,"pungkasnya.
Penulis : Indra
Editor : M.Huldi