Tak hanya itu, program aksi inspiratif warga untuk perubahan dikenal dengan sebutan SIGAP juga sudah dijalankan di kelima hutan desa, masing-masing hutan Desa Biatan, Dumaring, Long Ayan, Merabu dan Punan Segah.
Diungkapkan Wakil Bupati Berau, Agus Tantomo, hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi negara lain. Bahkan menteri Iklim dan Lingkungan (Minister of Climate and Environment) Norwegia, Vidar Helgesen dan Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Stig Traavik sudah berkunjung ke Berau untuk melihat bagaimana pengelolaan hutan yang diterapkan.
“Dalam kunjungan tersebut mereka mengetahui pengelolaan hutan desa oleh masyarakat Merabu yang merupakan hutan desa atau adat di Kaltim yang pertama kali ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) sebagai areal hutan desa. Dari Merabu mereka belajar, dimana meskipun banyak manfaat yang diambil dari hutan, tetapi kelestarian hutannya masih tetap terjaga,” jelasnya.
Lebih lanjut Wabup menjelaskan, pengelolaan hutan yang melibatkan masyarakat ini juga merupakan upaya menjaga kawasan hutan, di mana kewenangan Pemda dibatasi sesuai UU Nomor 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah.
“Pemkab Berau dalam hal ini ada keterbatasan di dalam menjaga kawasan hutan. Namun yang pastinya, kita akan berusaha agar kawasan hutan ini bisa tetap terjaga kelestarianya bersama pemerintah pusat,”pungkasnya. (ind)