“Yang sangat mengherankan kami, ternyata DLH Kubar seolah tidak terlalu serius, dan tidak tanggap dengan kondisi ikan mati massal di Sungai Tuang. Kami sudah menelusuri sungai itu, tidak ada warga yang menuba (menggunakan racun tradisional berupa akar tumbuhan). Seharusnya mereka (DLH) benar-benar menyelidiki apa yang terjadi di Sungai Tuang,” tegas Suriansyah (48) salah satu warga Kecamatan Siluq Ngurai kepada Koran Kaltim, Minggu (15/7) lalu di Sendawar.
Ketua DPC Lembaga Aliansi Indonesia (LAI) Kubar, Noorzain Noren menyebut ribuan ekor ikan mati di Sungai Tuang tersebut wajib ditelusuri dan diteliti oleh DLH Kubar. Dia khawatir kesehatan warga puluhan kampung di sepanjang aliran sungai itu terancam.
“Dugaan kuat kami, telah terjadi kebocoran limbah dari pabrik CPO di hulu sungai itu. Karena berpuluh tahun sebelumnya tidak pernah ikan mati massal seperti itu. Kami berharap Pemkab Kubar yang membawahi DLH agar bersikap karena hal itu menyangkut kesehatan dan keselamatan masyarakat yang mengonsumsi air dan ikan di sungai itu,” ungkapnya, Senin (16/7).
Sebelumnya, Camat Siluq Ngurai, Karlina kepada harian ini membenarkan peristiwa tersebut. Dia menyebut ikan kecil hingga besar semuanya mengapung dan mati di Sungai Tuang. Namun pihaknya belum mengetahui penyebabnya. “Benar, selama 3 hari ribuan ekor ikan mati dan mengapung di Sungai Tuang. Kami telah mengambil sampel air sungai itu untuk dibawa ke DLH Kubar sebagai laporan,” urainya.
DLH Kubar berharap masyarakat melaporkan kejadian ini secara tertulis dan dilengkapi bukti. “Selanjutnya DLH melakukan verifikasi ke lapangan, dan dilakukan uji laboratorium,” singkat Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Limbah B3 dan Pengendalian Pencemaran DLH Kubar, H Uripan.
Diketahui, masyarakat yang bermukim di aliran Sungai Tuang dan menyaksikan langsung ikan mati secara massal itu yakni Kampung Penawang, Tendiq, Kiaq, Betung, Bentas, Muara Kelawit, dan Belusuh. (imr)