Supardjo juga mengeluh dengan ongkos angkut barang dagangan yang didatangkan langsung dari Samarinda. Menurutnya jika dia memesan barang seharga Rp150 juta, maka biaya angkut hingga tembus ke Tiong Ohang sebesar Rp35 juta. “Dari Samarinda ikut kapal motor taksi ke Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun. Berlanjut menuju Tiong Ohang harus menggunakan speedboat dan longboat. Melintas tiga riam yakni Riam Haloq, Riam Udang, dan terakhir adalah Riam Panjang yang memang hampir mencapai 6 km panjangnya,” katanya.
“Tidak mudah pak, saya masih bertahan di Tiong Ohang karena meski untung sedikit saja, tetapi masih bisa menghidupi anak istri. Kalau saya pulang ke Jawa, tidak ada pekerjaan saya di sana,” ujarnya.
Senada diungkapkan Abdul Kaseng (42) warga asal Provinsi Sulawesi Selatan, dan berdomisili di Tiong Ohang. Pedagang kelontong dan juga warung nasi ini mengaku meski tak bisa dapat untung banyak, namun tetap bertahan untuk berdagang di wilayah itu. “Jujur tidak bisa banyak untung, bisa ditanya berapa beda harga barang yang saya jual di Tiong Ohang dengan harga di Kecamatan Long Bagun. Tertinggi hanya beda Rp5 ribu per barang. Saya sudah menyatu dan bangga hidup di Mahulu. Anak istri bersam saya di sini, dan kami tetap bertahan untuk hidup di hulu riam ini,” kisahnya, dan mengaku sudah 17 tahun hidup di Kampung Tiong Ohang.
Bupati Mahulu Bonifasius Belawan Geh menyebut dia bersama Wabup Juan Jenau akan terus menguatkan pembangunan dua kecamatan di wilayah perbatasan itu.
“Pemkab Mahulu terus membangun mulai bidang pendidikan, kesehatan, bahkan infrastruktur kemasyarakatan. Saya berpesan agar masyarakat bersabar, kami akan terus dorong percepatan pembangunan akses darat dari Kecamatan Long Apari –Long Pahangai, tembus ke Ibukota Kabupaten Mahulu, Ujoh bilang,” urainya.
“Kami yakin pada 2019 atau paling lambat 2020 jalan tembus itu sudah bisa dilalui dengan layak. Itu untuk mempermudah masyarakat dalam transportasi ekonomi di perbatasan,” bebernya.(imr)