“Petani sawah dan ladang se-Kubar hanya mampu memproduksi beras pertahun sekitar 7 ribu ton. Padahal kebutuhan beras Kubar pertahun sekitar 15 ribu ton,” jelasnya kepada Koran Kaltim di Sendawar, pekan kemarin.
Dia menyebut selama ini pertanian padi Kubar terkendala luas areal, baik sawah maupun ladang. Pada 2012 silam areal sawah Rapak Oros dicetak seluas 720 hektare. Namun yang bisa garap dan ditanami hingga 2018 hanya 62 hektare. Penyebabnya karena belum jelas kepemilikan lahan seluas 720 hektare itu.
“Distan Kubar berencana mencetak ulang areal seluas 720 hektare itu, dan kita fasilitasi para pemilik lahan dengan petani penggarap,” bebernya.
Finsen Allotodang memperhitungkan, melihat hasil panen padi Rapak Oros seluas 62 hektar pada tahun ini, merata setiap panen per hektare menghasilkan 4 ton gabah kering. Dengan kondisi itu, jika seluas 720 hektare dapat ditanami dan panen 3 kali setahun, maka target 15 ribu ton beras per tahun bagi kebutuhan lokal Kubar akan terpenuhi.
“Distan akan mensosialisasikan kondisi ini, dan berharap dukungan APBD Kubar serta APBD Kaltim. Saat ini Rapak Oros telah memiliki bendungan besar untuk pengairan dan irigasinya,” tuturnya.
Dia menyebut, jika Rapak Oros digarap tahun ini maka 2019 mendatang persawahan seluas 1.000 hektare yang dibuka pertama kali pada 8 tahun silam itu akan mampu memproduksi beras bagi Kubar.
“Kami akan koordinasikan kepada Pak Bupati FX Yapan. Penggarapan Rapak Oros memerlukan biaya besar. Karena saat ini seribu hektar itu telah berubah menjadi belukar ditumbuhi pohon kayu,” urainya.(imr)