“Kami hanya mengimbau dan mengharapkan pihak perusahaan perkebunan sawit itu segera menperbaiki jembatan yang rusak di Melak Ulu itu. Berpuluh tahun sebelum adanya angkutan sawit melintas di jalan raya, tidak pernah jembatan ulin itu rusak berat seperti saat ini,” jelas Ahmad (48), warga Melak Ulu, Selasa (30/1) kemarin di Melak.
Sabri (37) warga yang berdagang sembako di kawasan Pelabuhan Melak mengatakan, kendaraan angkutan perkebunan masuk dalam kota seharusnya tak bisa sulit ditolerir.
“Kami hanya warga masyarakat, tidak tahu aturan sebenarnya. Tapi menurut kami fatal sekali angkutan sawit masuk dalam kota. Kerusakan jembatan itu parah, papan ulin lantai tebalnya mencapai 10 centimeter patah. Karena muatannya terlihat berlebihan. Kami minta Pemkab Kubar, harus panggil perusahaan itu,” tegasnya.
Warga di kawasan pelabuhan itu meminta perusahaan perkebunan bertanggung jawab.
“Harus bertanggung jawab, segera perbaiki kerusakan itu. Karena tidak pernah jembatan ulin itu selama bertahun-tahun dilalui masyarakat bisa rusak berat seperti saat ini. Ini jalan dalam kota, tapi anehnya pemerintah sengaja mengizinkan angkutan perusahaan. Kami minta perusahaan turun tangan segera perbaiki kerusakan itu,” papar Hairul (44). (imr)