Rumah dinas tersebut bahkan jauh dari kata layak, selain sempit juga pengap dan panas sehingga mengurangi konsentrasi pelajar untuk membaca dan menghapal pelajaran.
Saat ini untuk jumlah buku di perpustakaan “dadakan” tersebut berjumlah 2.086 buku dan masih jauh dari kata cukup untuk kebutuhan siswa, meski serba keterbasan namun diakuinya minat baca siswa siswi cukup tinggi, hal inilah yang memotivasi para guru terus memperjuangkan anak didiknya agar mendapatkan perpustakaan yang layak. “Saya bangga dengan anak didik saya, meskipun kekurangan namun minat baca mereka masih tinggi. Hal ini lah yang menjadi dasar semangat kami untuk terus berupaya mendapatkan perpustakaan yang layak untuk anak didik kami,” lanjutnya.
Bahkan pada tahun 2008 lalu, pihak sekolah pernah mengajukan permohonan untuk pembangunan Perpustakaan ke Dinas Pendidikan maupun pihak perusahaan yang berada di kampung tersebut dan sempat ditinjau namun hingga sembilan tahun berlalu, tidak ada sama sekali pembangunan perpustakaan tersebut. “Pernah tahun 2008 buat pengajuan, dan sempat ditinjau namun hingga sampean lihat sendiri, belum ada satupun tiang untuk pondasi pembangunan perpustakaan,” bebernya.
Ia menambahkan, untuk lahan di SDN 26 masih cukup luas untuk pembangunan perpustakaan, yang layak serta mampu menampung siswa, hanya masalah dana yang menjadi kendala yang dihadapi oleh SDN 26. “Saya berharap agar siswa mendapatkan hak mereka yakni pendidikan yang layak serta sarana belajar yang memadai yakni perpustakaan, karena dari mereka inilah lahir pemimpin suatu saat nanti, dengan membaca bisa menambah ilmu pengetahuan mereka,” katanya. (mh216)