Langkah ini menjadi bagian dari penerapan rekayasa lalu lintas yang telah melalui kajian matang. Kepala Dishub Balikpapan Muhammad Fadli Pathurrahman menegaskan kebijakan tersebut merupakan hasil pembahasan bersama berbagai pemangku kepentingan sejak Februari lalu.
“Rekayasa lalu lintas ini telah dibahas dalam Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pada 12 Februari 2026 dan seluruh stakeholder yang hadir menyepakati untuk diterapkan,” kata Fadli kepada Korankaltim.com Jumat (3/4/2026) hari ini.
Forum tersebut melibatkan Satuan Lalu-Linyas Polresta Balikpapan, Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda Litbang) hingga unsur kecamatan dan kelurahan setempat.
Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya volume kendaraan di Simpang Agung Tunggal yang menjadi jalur alternatif penghubung kawasan Perumahan Balikpapan Baru menuju Jalan MT Haryono.
Sejak dibukanya portal di kawasan Bundaran Monyet pada Desember 2023, arus kendaraan di jalur tersebut meningkat signifikan. Dampaknya, kepadatan kerap terjadi, terutama pada jam sibuk pagi, siang, dan sore hari.
Selain itu, keterbatasan kapasitas simpang juga menjadi perhatian. Lebar efektif mulut Jembatan Agung Tunggal yang hanya sekitar lima meter dinilai belum mampu menampung tingginya arus kendaraan. Di sisi lain, tingginya konflik pergerakan kendaraan dari berbagai arah membuat tundaan semakin meningkat.
Melalui rekayasa ini, Dishub menutup U-turn serta mengatur ulang sirkulasi kendaraan guna mengurangi titik konflik di simpang.
Penutupan dilakukan menggunakan beton blok dan water barrier sepanjang kurang lebih 195 meter, mulai dari depan Toko Gramedia hingga ke depan Kedai Kopi Bubur Nikmat. “Dengan pengaturan ini, kami berharap arus lalu lintas menjadi lebih lancar, aman, dan tertib,” jelasnya.
Dishub bersama Satlantas Polresta Balikpapan akan melakukan pengaturan lalu lintas sekaligus sosialisasi langsung di lapangan selama tujuh hari ke depan. Fadli mengakui, pada tahap awal masyarakat membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri, termasuk kemungkinan munculnya kepadatan di titik lain.
Namun hal tersebut dinilai masih dalam batas wajar. “Prinsipnya, lebih baik menempuh jarak sedikit lebih jauh namun lancar, daripada dekat tetapi macet,” tegasnya.
Rencana awal penutupan dicanangkan menggunakan concrete barrier atau barrier beton namun upaya itu kembali di pertimbangkan. Di lapangan, watter barrier nampak cukup mudah untuk dipindahkan, hanya saja kini telah di kunci.
Kepala Seksi Manajemen Rekayasa Lalu-Lintas dan Jaringan Transportasi Dishub Balikapapan, Djogeh Hermana menambahkan penggunaan bahan ringan itu agar lebih fleksibel. "Jika terjadi sesuatu yang darurat, seperti hal nya kebakaran, itu bisa dibuka sehingga memudahkan akses untuk melintas," tutup Djogeh.
Editor: Aspian Nur