Kepala BPBD Balikpapan, Usman Ali, menjelaskan peristiwa pertama terjadi di kawasan Karang Jati yang menghanguskan empat bangunan di permukiman padat penduduk dan berdampak pada sembilan kepala keluarga atau sekitar 25 jiwa.
Kebakaran kemudian kembali terjadi di Kelurahan Baru Ilir, Balikpapan Barat, dengan satu bangunan mengalami kerusakan hingga 75 persen. Disusul insiden di kawasan Kariangau yang menghanguskan tiga kios, termasuk dua penjual bahan bakar eceran.
Peristiwa lainnya terjadi di Karangrejo, Balikpapan Tengah, yang menyebabkan empat bangunan terdampak, dengan tiga unit terbakar habis dan satu lainnya rusak pada bagian atap.
Usman menyebut, sebagian besar kebakaran terjadi di kawasan dengan bangunan yang saling berhimpitan serta didominasi material mudah terbakar, sehingga api cepat merambat.
“Api mudah menjalar karena kondisi bangunan berdekatan dan sebagian menggunakan material yang mudah terbakar,” katanya.
Selain faktor bangunan, kendala di lapangan juga turut memengaruhi proses pemadaman. Salah satunya adalah kerumunan warga yang memadati lokasi kejadian.
“Kerumunan warga ini bisa menghambat akses mobil pemadam dan membahayakan masyarakat sendiri,” tambahnya.
Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan suhu udara di Balikpapan dalam beberapa hari terakhir tidak menjadi pemicu kebakaran, meski rentetan insiden terjadi di sejumlah wilayah.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Stasiun SAMS Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, menyebut suhu maksimum dalam empat hari terakhir masih dalam batas normal, yakni 32 derajat Celsius pada 28 Maret, 31 derajat pada 29 Maret, 31,5 derajat pada 30 Maret, dan 30 derajat pada 31 Maret.
“Suhu tersebut tidak bisa memicu terjadinya kebakaran. Justru dampak dari kebakaran itu yang menimbulkan panas lebih tinggi dan tidak nyaman dirasakan saat beraktivitas,” tuturnya.
Editor: Erwin