Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi ini dipicu fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang tengah aktif di wilayah Indonesia.
Kepala BMKG Stasiun SAMS Sepinggan Balikpapan Kukuh Ribudiyanto menjelaskan, MJO adalah gelombang konveksi atmosfer di daerah tropis yang bergerak dari barat ke timur dengan siklus 40–90 hari.
Fenomena ini memicu terbentuknya awan hujan secara masif sehingga curah hujan tetap tinggi meski secara klimatologis sedang musim kemarau.
“MJO saat ini berada di kuadran 3 dan bergerak menuju timur. Kehadirannya memicu hujan di sejumlah wilayah, termasuk Kaltim,” kata Ribudiyanto kepada Korankaltim.com Minggu (14/9/2025).
Selain MJO, suhu permukaan laut di perairan Indonesia yang cukup hangat juga memperkuat potensi hujan. Akibatnya, rata-rata curah hujan bulanan di Kaltim masih di atas 100 milimeter.
Kondisi ini membuat kemarau tahun ini digolongkan sebagai kemarau basah. BMKG mencatat, musim kemarau di Kaltim berlangsung sejak Juli hingga Oktober.
Namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, curah hujan pada periode ini tidak turun signifikan dan masih cukup tinggi.
BMKG juga mengingatkan adanya potensi angin selatan pada September yang bisa memicu gelombang tinggi di laut. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai angin kencang yang berpotensi menimbulkan banjir, longsor, hingga gangguan pelayaran.
Editor: Aspian Nur