Pasar murah tersebut digelar sebagai upaya pemerintah dalam menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok menjelang hari besar keagamaan. Berbagai instansi terlibat dalam pelaksanaan pasar murah ini, di antaranya Dinas Perdagangan (Disdag), Bank Indonesia (BI), Bulog, serta didukung pemerintah kecamatan dan kelurahan.
"Ini adalah bentuk keseriusan Satgas Pengendalian Inflasi Daerah untuk membantu masyarakat menghadapi hari raya kurban. Harga yang ditawarkan lebih murah dari harga pasar, dan rencananya akan digelar rutin minimal sebulan sekali, atau 13 kali dalam setahun," kata Bagus kepada media.
Pasar murah ini menyediakan 11 kebutuhan pokok yang menjadi perhatian pemerintah agar tidak mengalami lonjakan harga.
Satu diantara komoditas yang paling diminati warga adalah tabung gas LPG tiga kilogram yang dijual seharga Rp19 Ribu per tabung dan setiap harinya tersedia 360 tabung. Dalam empat hari diperkirakan akan terdistribusi lebih dari 1.200 tabung.
Selain LPG, pasar murah juga menyediakan beras 400 bungkus, telur dari peternak local serta bahan pokok lainnya yang langsung disuplai dari gudang ke masyarakat, sehingga harga tetap stabil.
"Kami berupaya mengendalikan inflasi dan hingga saat ini Balikpapan masih mencatatkan inflasi terendah di Kalimantan Timur, yaitu di bawah 1 persen," papar Bagus.
Untuk sementara, kegiatan pasar murah difokuskan di Pasar Inpres Kebun Sayur. Namun pemerintah akan berkoordinasi lebih lanjut dengan BI dan Bulog untuk memperluas lokasi pelaksanaan di wilayah lain agar lebih merata.
"Kami ingin kegiatan ini tidak hanya terpusat di satu lokasi. Harapannya, ke depan bisa digelar di beberapa titik setiap bulan agar tidak menimbulkan kecemburuan antarwilayah. Namun tentu saja, ini bergantung pada kesiapan distribusi dan ketersediaan stok," sebutnya.
Pemerintah berharap melalui program pasar murah ini, masyarakat bisa mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, serta membantu menjaga stabilitas harga menjelang Hari Raya Iduladha.
Editor: Aspian Nur