Berbagai langkah pengurangan dan pengelolaan sampah dilakukan guna menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat di Kota Beriman yang menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Balikpapan Sudirman Djayaleksana menyebut kolaborasi antara pemerintah, masyarakat dan teknologi menjadi kunci dalam mengatasi persoalan tersebut.
Diungkapkannya, dari 500 ton sampah yang dihasilkan setiap hari, sebanyak 120 ton berhasil dikurangi berkat partisipasi aktif masyarakat.
“Itu karena peran KSM (kelompok swadaya masyarakat), bank sampah serta aplikasi teknologi seperti Cirrus. Aplikasi ini memungkinkan masyarakat untuk memilah sampah dan memberikan nilai ekonomis bagi sampah yang terkumpul,” kata Sudirman kepada Korankaltim.com Minggu (19/1/2025).
Keterlibatan sekolah dalam mendukung pengelolaan sampah sejak dini juga sangat penting Kurikulum muatan lokal (mulok) yang diperbarui pada 2024 mengajarkan pelajar tentang pengelolaan sampah organik, seperti pembuatan kompos di rumah.
“Tujuan kami adalah membangun budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan sejak anak-anak masih di sekolah,” sebutnya.
Untuk meningkatkan estetika kota, Pemkot Balikpapan berencana memindahkan tempat pembuangan sampah (TPS) yang sebelumnya berada di tepi jalan ke kawasan permukiman.
Langkah ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 yang mewajibkan pengelolaan sampah di tingkat permukiman.
“Kami menargetkan tidak ada lagi TPS di pinggir jalan. Sampah akan dikelola langsung dipermukiman dengan fasilitas yang memadai. Sampah organik dapat diolah di tempat, sedangkan sampah anorganik akan dipilah untuk diproses lebih lanjut,” papar Sudirman.
Saat ini DLH Balikpapan tengah mengembangkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di beberapa kecamatan yang berfungsi untuk mengolah sampah organik menjadi kompos dan memilah sampah anorganik yang bernilai ekonomis. Dua TPST baru pada tahun 2024 lalu direncanakan dibangun di Balikpapan Selatan dan Balikpapan Utara.
Hal ini dilakukan menyusul kekhawatirannya terkait kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Balikpapan yang semakin terbatas.
Editor: Aspian Nur