Hal ini disampaikan Kepala Puskesmas Baru Tengah drg Rulida Osma Marisya kepada Korankaltim.com Rabu (15/1/2025) hari ini.
Selain 97 anak yang mengalami kendala tinggi badan rendah, di Balikpapan Barat juga ada 30 anak teridentifikasi menderita wasting yang mana berat badannya lebih rendah dibandingkan tinggi badan. Masih ada lagi, yaitu 80 anak mengalami underweight, berat badan mereka dibawah rata-rata atau tidak normal.
“Angka-angka ini didapat dari hasil pemantauan Puskesmas selama setahun terakhir,” jelas Rulida.
Walau demikian Puskesmas sudah mengimplementasikan berbagai langkah untuk menangani masalah ini dan berencana untuk melanjutkan upaya serupa pada tahun 2025 mendatang. “Sampai saat ini kami terus melakukan pemantauan dan tindak lanjut terkait stunting ini,” paparnya.
Disisi lain, Puskesmas Baru Tengah menjalankan berbagai intervensi untuk mencegah stunting, termasuk pemantauan tumbuh kembang anak, pemberian makanan tambahan, mendukung pemberian ASI eksklusif serta pendampingan untuk ibu menyusui.
Stunting disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dalam 1.000 hari pertama kehidupan, yang dimulai sejak kehamilan.
"Karena itu Puskesmas telah melakukan upaya preventif sejak dini, diantaranya dengan melakukan screening anemia pada remaja putri dan memberikan tablet tambah darah. Makanan tambahan juga diberikan kepada ibu hamil dan bayi untuk mendukung kesehatan mereka," papar Rulid lagi.
Puskesmas Balikpapan Barat juga aktif memberikan pendampingan kepada ibu menyusui, memastikan imunisasi dasar anak terpenuhi, serta memantau kesehatan ibu hamil.
"Upaya-upaya ini diharapkan dapat menurunkan angka stunting di Kelurahan Baru Tengah melalui program-program yang terencana dengan baik," tutupnya.
Editor: Aspian Nur