Hal ini disampaikan oleh Ketua PNTB, Sakiran pasca mendapatkan kunjungan dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat di Manggar Baru, pada Sabtu (14/12/2024).
Menurutnya, kekurangan kuota solar ini berdampak pada frekuensi melaut nelayan. Kebutuhan solar para nelayan bervariasi karena menyesuaikan durasi waktu. Untuk nelayan berangkat pagi sampai sore memerlukan lebih kurang 70 liter.
“Namun, sekarang kami hanya bisa melaut tiga kali dalam seminggu, padahal sebelumnya bisa lima kali. Karena BBM nya kurang” ujarnya.
Untuk mengatasi kekurangan solar, mereka biasanya berkelompok, saling meminjamkan bahan bakar antar nelayan yang membutuhkan.
Pihaknya juga telah menyampaikan hal ini kepada Dinas Perikanan Kota Balikpapan agar ada penambahan kuota solar bagi nelayan. “Kami berharap ada penambahan kuota agar kebutuhan kami dapat tercukupi,” jelasnya.
Menjawab kelurahan tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menambahkan, pihaknya komitmen untuk menyesuaikan kuota solar berdasarkan jumlah kapal yang beroperasi.
“Awalnya, SPBU nelayan hanya untuk 130 kapal. Namun, dengan adanya penambahan jumlah kapal, kami akan sesuaikan kuota solar agar kebutuhan nelayan bisa terpenuhi,” ujar Bahlil.
Bahlil juga mengakui adanya kendala dalam proses birokrasi pendirian SPBU nelayan. Ia berjanji akan memangkas waktu proses agar lebih efisien dan cepat, sehingga nelayan tidak terhambat dalam mendapatkan pasokan bahan bakar. “Proses pendirian SPBU saya akan percepat, supaya nelayan tidak lagi terganggu,” tegasnya.
Sebagai seorang anak nelayan, Bahlil mengungkapkan pemahamannya terhadap kondisi para nelayan. “Saya sangat memahami kesulitan yang mereka alami karena saya juga berasal dari keluarga nelayan,” tambahnya.
Menjelang Natal dan Tahun Baru, Menteri ESDM memastikan pasokan solar bagi nelayan akan tetap cukup. “Kuota solar untuk nelayan sudah mencukupi, namun kami akan terus menyesuaikan agar kebutuhan mereka lebih terjamin,” pungkasnya.
Editor: Erwin