Ketua KPU Balikpapan, Noor Thoha menjelaskan, Pemilu itu salah satu prosesnya membutuhkan banyak kertas. Sehingga dari pemerhati lingkungan mengganggap Pemilu ini tidak ramah lingkungan, karena berapa juta pohon yang harus ditebang kemudian diproses menjadi kertas, kemudian kertas tersebut menjadi surat suara.
"Oleh karena itu, KPU ambil Langkah-langkah strategis untuk memulihkan keadaan itu. Caranya bagaimana, hari pelantikan ini diminta kepada seluruh KPU kabupaten dan kota dalam hal pelantikan itu langsung dilanjutkan dengan seremonial penanaman pohon. Dan inilah yang menjadi bagian dari upaya KPU mencarikan solusi agar tidak di klaim Pemilu tidak ramah lingkungan," ujarnya.
Ia menerangkan, memang idealnya dalam penanaman pohon setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS) 1 pohon. Namun dibeberapa tempat di Balikpapan agak kesulitan lahan, karena TPS tiap kelurahan jumlahnya tidak sama dengan TPS di daerah lain.
“Bayangin misalnya di Sepinggan Manggar TPS- nya lebih dari 100. Otomasi TPS 1 sudah 100 pohon. Kalau jaraknya 1 pohon saja 2 meter, itu harus perlu lahan 200 meter per segi. Karena Balikpapan Selatan ter sentral di satu tempat saja, makanya hitungan per kecamatan. Tapi pelantikan per kelurahan kita minta per kelurahan untuk melakukan penanaman pohon," pungkasnya.
Editor: Maruly Z