"HMI ingin membawa sebuah resolusi, kemudian menjadi proses untuk kita mampu memberikan distribusi bagi daerah," kata Rafsyan kepada Koran Kaltim, Jumat (6/10).
LK 2 HMI yang diikuti sekitar 50-an kader ini bertemakan "Resolusi HMI dalam membentuk Muslim Entrepreneur untuk Menghadapi Pemindahan IKN di Era Disrupsi". Menurutnya, tema ini harus dimaksimalkan kendati pengaderan tidak hanya terfokus pada wiraswasta saja. "Sebab setelah ini, harapannya ada pelatihan-pelatihan entrepreneur," ujarnya.
Rafsyan menyampaikan bahwa beberapa penelitian menyebut perekonomian suatu negara akan tumbuh jika ada nilai entrepreneur di situ. Bahkan menjadi proses paling dasar termasuk di pemerintahan. "Contohnya Singapura yang pertumbuhan ekonominya sudah naik tujuh persen dan Malaysia tiga persen. Kalau Indonesia belum sampai dua persen," sebutnya.
Untuk itu, HMI mendorong realisasi penguatan sumber daya manusia (SDM) agar mengarah pada entrepreneurship. Apalagi dengan adanya pembangunan IKN di Bumi Etam. "Dengan adanya IKN ini, banyak potensi masyarakat yang harus dikembangkan dan dimaksimalkan," tuturnya.
HMI mendukung pemindahan ibu kota negara, tapi juga tidak ingin keberadaan IKN justru menjadi disrupsi bagi masyarakat lokal yang akhirnya terpinggirkan. Justru harus menjadi peluang untuk mengembangkan potensi SDM. "Jangan sampai seperti Jakarta, warga lokal jadi penonton, itu yang kita (HMI) tidak mau," tegasnya.
HMI dalam melihat IKN, lanjut Rafsyan, merupakan sebuah tantangan untuk membangun mental kader yang tangguh menghadapi perkembangan dan kemajuan zaman. Sekaligus menjalin sinergitas dengan lembaga pemerintahan. "Kami juga komunikasi ke Pemerintah Kota Balikpapan. Kami didukung untuk meningkatkan penguatan SDM," pungkasnya.
Untuk diketahui, LK 2 secara nasional di Asrama Haji diikuti kader dari Kaltim, Kaltara, dan Sulewasi. Pengaderan ini juga diisi oleh para pemateri dari berbagai latar belakang profesi seperti Rendi Susiswo Ismail yang merupakan akademisi dan Presidium Korps Alumni HMI (Kahmi) Kota Balikpapan, Mas'at Ali dari Forum HMI Wati (Forhati), serta pemateri dari Pengurus Besar (PB) HMI. (*)
Editor: Aspian Nur