Komandan Yonif (Danyon) Raider 600/Modang, Letkol Inf Karuniawan Hanif Arridho memimpin 450 prajurit selama bertugas di ujung timur Indonesia itu. Kepada Korankaltim.com, Hanif menceritakan timnya yang semula hanya bertugas selama 9 bulan pun diperpanjang menjadi 14 bulan.
Mereka ditempatkan di 9 pos berbeda yang berada di lima kabupaten mulai dari Kabupaten Asmat, Merauke, Mappi, Yahukimo dan Mimika. Hanif meminta semua prajurit membaur dengan masyarakat sekitar dengan membawa slogan "kami saudara mu dari Kalimantan".
"Kami datang kesana bertamu dan kami nyatakan kami saudara mereka dari Kalimantan," kata Hanif siang tadi.
Selama bertugas, banyak cerita yang dialami prajuritnya di Papua, terutama keberhasilan prajuritnya yang membawa pulang pengungsi kabur dari Distrik (Kecamatan) Suru-Suru di Kabupaten Yahukimo usai mendapat serangan dari kelompok kriminal bersenjata (KKB) saat itu.
Serangan dari KKB itu membuat penduduk asli maupun pendatang yang menghuni pun kabur menyelamatkan diri ke berbagai daerah dengan menyusuri hutan belantara. Ketakutan itu kemudian membuat penduduk tak berani kembali.
Selama setahun lebih Distrik Suru-Suru pun bak kota mati tak berpenghuni. Rumput ilalang memenuhi distrik tersebut.
"Di Suru-Suru itu sudah terbentuk sistem kependudukan ada masyarakat, sekolah dulunya puskesmas bandaranya aparat pemerintah, karena kosong jadi seperti kota mati," ungkapnya.
Timnya yang betugas di Yahukimo kemudian mendapat pesan akan ada penduduk yang kembali ke Distrik Suru-Suru. Untuk meyakinkan masyarakat, Danpos Yahukimo Kapten Inf Gilang Ramadhan pun mendiami Distrik Suru-Suru selama kurang lebih 7 bulan.
Di operasi Suru-Suru tahap awal, Gilang bersama prajuritnya berhasil meyakinkan 27 penduduk desa untuk mau kembali mendiami dan tinggal di Distrik Suru-Suru. Selama 7 bulan mereka tak mendapatkan sedikit pun serangan dari KKB.
"Intinya dari kota mati yang awalnya orang pun tidak berani melintas, menjadi masyarakat datang kembali kesana (Distrik Suru-Suru)," kata Gilang Ramadhan.
Selain melakukan operasi Suru-Suru, ratusan prajurit yang berada di 9 pos di lima kabupaten juga melakukan banyak kegiatan lain, seperti membantu menyediakan air bersih dengan menyiapkan mesin penyaring air bersih, memberikan bantuan obat-obatan dan membantu mengantar siswa-siswi berangkat kesekolah yang biasanya ditempuh berjalan kaki sejauh belasan kilometer.
Kedekatan yang terjalin antara prajurit dan penduduk desa pun menjadi kesan tersendiri bagi para prajurit. Bahkan, hingga diakhir masa tugasn mereka diantarkan masyarakat ke pelabuhan setempat sebelum meninggalkan desa.
"Karena kedekatan yang terjalin tadi, saat kami pulang ada ratusan masyarakat dari tiga desa yang menghantarkan kami," ucap Hanif.
Editor: Aspian Nur