Kondisi itu semakin parah sejak dua hari terakhir saat hujan melanda Balikpapan. Air yang merendam rumah di GPA sejak Juni itu pun mulai naik hingga menggenangi rumah yang digunakan warga sementara waktu untuk mengungsi. "Hujan dua hari ini, jadi airnya nambah tinggi," kata Melani, Rabu (13/9/2023).
Dia mengatakan, kondisi semacam ini telah dirasakan warga sejak Juni 2023. Mulanya, hanya 7 rumah yang terendam banjir termasuk bangunan rumah miliknya. Namun kini, rumah yang terendam telah mencapai 16 rumah.
Melani pun saat banjir pertama melanda memilih mengungsi ke rumah kosong di dekat rumahnya yang belum dihuni bersama 3 anak dan suaminya. Namun belakang, rumah yang dihuninya sebagai tempat mengungsi sementara waktu itu, mulai ikut terendam.
"Bagian belakang itu sudah mulai tergenang juga. Sama di rumah sebelahnya juga nggak lama kena juga itu," ungkapnya.
Warga lainnya yang turut terdampak yakni Kamalia. Sebelumnya, banjir yang menggenang sempat disedot menggunakan pompa air untuk mengurangi ketinggian air yang menggenang oleh pihak pengembang. Namun, kini pompa tersebut sudah tidak difungsikan kembali, alasanya pompa sudah tak mampu menyedot air.
Warga pun sempat meminta bantuan kepada Dinas Pekerjaan Umum Balikpapan agar mengoperasikan unit pompa air. Namun sayang permintaan warga hingga kini belum dipenuhi. "Katanya itu jadi tanggungjawab pengembang," ungkap Kamalia.
Dia mengungkapkan, genangan yang semakin meninggi itu membuat sebagian warga lainnya pun kini turut terdampak. Warga yang terdampak pun memilih mengungsi ke rumah kerabatnya demi menjaga kesehatan keluarganya.
Ditambahkan Kamalia, sebagian warga lainnya ada yang mengungsi ke masjid di dekat pemukiman yang teredam. Padahal, pinggiran masjid pun kini mulai ikut tergenangi air. "Sudah sampai ke masjid juga itu airnya. Tapi masih dipinggir-pinggirnya," imbuhnya.
Kini warga pun hanya bisa pasrah sembari menunggu genangan air surut alias tak kembali meninggi. Pasalnya, warga khawatir bila genangan semakin meninggi, akan berdampak pada konstruksi bangunan yang bisa saja rubuh.
Editor: Maruly Zainuddin