Ketua PBH Peradi Balikpapan, Ardiansyah menerangkan, pelaporan yang dilayakan ke Polda Kaltim tersebut merupakan buntut atas dugaan pengerusakan yang dilakukan PT Fahreza Duta Perkasa terhadap sejumlah fasilitas milik warga di sepanjang proyek pengendalian banjir DAS Ampal.
"Laporan itu terkait dugaan penghancuran atau pengrusakan yang dilakukan oleh PT Fahreza Duta Perkasa terhadap barang milik warga di sekitar lokasi proyek DAS Ampal,"kata Ardiansyah, Rabu (16/8/2023).
Dia menerangkan, di dalam laporannya itu, banyak fasilitas warga rusak sejak proyek DAS Ampal berjalan pada Agustus 2022 lalu. Mulai dari akses jalan masuk yang rusak, tiang lampu, pagar, papan reklame, lampu hias dan sejumlah fasilitas lainnya.
Upaya atau langkah hukum yang diambil warga itu terpaksa dilakukan. Pasalnya, meski telah setahun berjalan, PT Fahreza Duta Perkasa tak ada upaya sedikit pun untuk mengganti kerugian yang dialami kliennya itu. "Warga ini selalu hanya dijanjikan-janjikan saja. Tapi setelah hampir setahun, warga gak dapat penggantian sampai sekarang,"terang Ardiansyah.
Ardiansyah menuturkan, penghancuran atau pengrusakan yang dilakukan akibat dari perencanaan yang tidak matang dan pelaksanaan yang tidak terkordinasi.
Laporan itu juga sebagai bentuk tuntutan tegas warga terdampak terhadap PT Fahreza Duta Perkasa agar bertanggung jawab secara pidana atas tindakan sewenang-wenang yang telah dilakukannya atas nama pembangunan.
"Kami meyakini sejatinya pembangunan yang dilakukan harus memberikan dampak kebaikan dan kemajuan kepada masyarakat, bukan sebaliknya,"ungkapnya.
Dia juga membeberkan, kerugian langsung akibat pengerusakan yang dialami warga tersebut mencapai Rp 1,7 milliar lebih. Kerugian itu dihitung dari seluruh fasilitas warga yang rusak akibat dari proyek DAS Ampal.
Tak hanya kerugian akibat rusaknya sejumlah fasilitas warga. Ardiansyah juga mengatakan, dampak lain dari proyek DAS Ampal tersebut juga telah merugikan warga yang memiliki usaha disepanjang lokasi proyek.
Banyak pemilik usaha kemudian yang kehilangan penghasilan akibat tak adanya akses jalan masuk ke lokasi mereka. Akibatnya, warga pun kehilangan hampir 80 persen pendapatannya selama proyek tersebut bejalan.
"Selama proyek berjalan hampir setahun itu, warga merugi lebih dari Rp5 milliar. Karena akhirnya banyak langganan mereka (warga) yang berpindah lokasi,"bebernya.
Usaha warga itu beragam jenisnya, mulai dari fasilitas olahraga, klinik kecantikan hingga penyewaan gedung yang harus tutup karena sedang ada proyek penanggulangan banjir.
Editor: Maruly Zainuddin