Rubiyah, salah seorang warga yang hadir mengaku rela mengantre berjam-jam untuk bisa mendapatkan gas elpiji 3 Kg, lantaran di kampung menurutnya cukup sulit untuk mendapatkan gas yang berbentuk seperti buah melon tersebut.
Sulitnya mendapatkan gas elpiji 3 Kg itu sudah dirasakan warga sejak Iduladha 2023 kemarin. Kalaupun ada, harga yang ditawarkan di tingkat pengecer cukup tinggi. "Saya sudah dua jam antre, tidak apa-apa antre yang penting dapat gas. Kalau beli di pengecer mahal Rp35 ribu per tabung,"kata Rubiyah.
Berbeda dengan Rubiyah, warga lainnya Zein yang telah mengantre selama satu jam lebih justru tak kebagian tabung gas elpiji. Zein mengira penukaran elpiji di Kantor Kelurahan Gunung Samarinda Baru untuk masyarakat umum, namun sialnya ia tak bisa menukar tabung gasnya karena berbeda wilayah. "Sudah lima hari, saya kira untuk umum ternyata untuk warga situ aja,"kata Zein.
Sementara itu Lurah Gunung Samarinda Baru, Slamet Riyadi mengatakan, operasi pasar yang digelar di kantornya itu diprioritaskan untuk warga disekitar. Pasalnya ,tabung elpiji yang disediakan terbatas jumlahnya. "Ada 280 tabung kerja sama antara kelurahan dengan bagian Perekonomian dan Disdag Balikpapan,"kata Slamet.
Warga yang hendak menukar tabung pun diminta menyiapkan KTP sebelum melakukan penukaran dengan harga normal sebesar Rp 19 ribu. "Satu KTP satu tabung,"imbuhnya.
Melihat antusia warga yang cukup ramai, Slamet mengatakan pihaknya akan kembali menggelar operasi pasar gas gas elpiji dalam waktu dekat karena masih banyak warga yang belum mendapatkan.
Dia juga telah mengusulkan ke Bagian Perekonomian dan Disdag untuk kembali menggelar operasi pasar. "Tergantung dari pada kebijakan Pertamina nanti seperti apa, karena ujungnya Pertamina yang berwenang untuk memberikan kuota,"ungkapnya.
Editor: Maruly Zainuddin