Tim ini resmi dibentuk awal November 2022 dengan dasar surat tugas hingga akhir tahun.
Kabid Linmas Satpol PP Kota Balikpapan Rizki Farnovan didampingi Danru Satgas Penertiban PMKS Beswanto menjelaskan pembentukan Satsus ini berdasarkan intruksi Wali Kota Balikpapan untuk menjaga estetika kota.
Empat hari setelah Satsus bertugas, sebanyak 16 orang PMKS dari sejumlah titik traffic light diamankan dan didata. Mereka yang ditangkap mulai dari badut, pengamen, pengemis, penjual tisu maupun penjual makanan dan sebagian besar warga luar Balikpapan.
“Setelah ditangkap mereka dibawa ke Kantor Satpol PP. Sanksinya bisa penyitaan alat maupun tipiring (tindak pidana ringan). Ada juga yang dibina oleh dinas sosial,” jelas Rizki kepada Korankaltim.comi Sabtu (5/11/2022) sore.
Tak hanya PMSK yang beroperasi di fasilitas umum, Satpop PP juga dapat menertibkan mereka yang beroperasi di kedai atau pusat kuliner, dengan syarat ada laporan dari pengelola
"Silahkan bagi para pemilik usaha yang keberatan dengan adanya PMKS bisa melapor ke kami, dengan dasar itu bisa kami lakukan tindakan,"tegasnya.
Keberadaan PMKS di Balikpapan dari hari ke hari kian banyak, bahkan hingga pada tahap meresahkan karena ada yang meminta uang dengan memaksa, bahkan mengancam ketika tidak diberi uang.
"Ada yang memaksa meminta uang, dengan mengetuk kaca mobil yang sedang berhenti di traffic light, tentu ini sudah meresahkan," sebut Rizki.
Pernah juga ada PMKS yang kedapatan membawa senjata tajam dan melawan petugas ketika ditangkap..
"Ada juga yang kami tangkap ternyata membawa senjata tajam. Mereka juga tak segan melawan saat akan ditangkap,” ujar Rizkki.
Fakta yang ditemukan, ada sejumlah PMKS yang terorganisir, yang mana koordinator tersebut kerap mengedrop PMKS badut di titik keramaian.
"Koordinator ini bisa merekrut anak putus sekolah atau anak di bawah umur. Jadi memang ini sudah menjadi semacam bisnis,” jelasnya.
Mirisnya lagi ada dugaan eksploitasi anak, yang dilakukan oleh orangtuanya sendiri, dengan mempekerjakan anaknya untuk menjual tisu atau meminta-minta.
"Si anak ini biasa diminta berjualan oleh orang tuanya, biasanya berjualan tisu atau makanan bahkan mengemis. Jika pulang tidak membawa hasil biasanya mereka akan dipukul dan diancam,” tutup Rizki.
Penulis: Yudi Hadi
Editor: Aspian Nur