Dia saat itu bersama 20 orang rekannya mengikuti kegiatan pelatihan kepemudaan yang diikuti oleh para pemuda di Kaltim. "Saya senang sekali bisa kembali lagi ke Kaltim. Saya pertama kali berkegiatan di Kaltim tahun 1994, masih mahasiswa, kami sekitar 20 mahasiswa Gajah Mada membuat pelatihan untuk anak-anak muda di Kaltim, waktu itu pelatihan di Tenggarong,"kenangnya.
Ketika itu, Kutai Kartanegara belum ada pemekaran wilayah sehingga tahu persis bagaimana perjuangan para peserta pelatihan saat itu, menempuh perjalanan ke lokasi acara berhari-hari.
"Kotanya masih satu, belum ada pemekaran dan pesertanya ada yang perjalanan sampai ke lokasi tiga sampai empat hari. Ini pengalaman pertama saya berkegiatan di Kaltim dan mengesankan betul. Karena banyak warga dari pedalaman ikut dalam kegiatan itu, bagi kami menyadarkan betapa besarnya tantangan yang ada di lapangan dan gap antara kota, desa dan pedalaman sangat luar biasa,"selorohnya.
Kembali ke Kaltim kali kedua, saat menuntaskan disertasi terkait dengan otonomi daerah dan demokrasi di mana Kaltim menjadi objek kajian.
"Lalu saya kembali lagi ke sini pada saat menulis disertasi tentang otonomi daerah dan demokrasi salah satunya di Kaltim.l," ujarnya.
Menurutnya, Kaltim sudah dikenal jauh sebelum masuk dunia pemerintahan dan politik sehingga kenangan saat berkegiatan di Kaltim selalu ada.
"Jadi kembali ke tempat ini selalu punya kenangan karena datang bukan hanya saat bertugas di pemerintahan justru saya berkegiatan jauh sebelum masa kuliah."katanya.
Disinggung soal pencapresan, Anies masih gamang dan malu-malu. "Saya senang balik ke sini, kalau soal pencapresan nanti aja ya," singkatnya.
Menurutnya, masih banyak waktu untuk menguraikan, dia lebih mengikuti ritme politik yang sedang berjalan terlebih dahulu. "Sekarang mengalir saja dulu masih panjang saya dicalonkan baru dua minggu nanti saja cerita panjangnya kalau sudah lengkap," tutupnya.
Penulis: Yudi Hadi
Editor: Supiansyah