Menanggapi hal itu, Kantor Wilayah V Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Balikpapan merespon dengan melakukan koordinasi dengan beberapa stakeholder.
Kepala Kanwil V KPPU Balikpapan Manaek Pasaribu mengingatkan perusahaan airlines agar tidak memanfaatkan kekuatan monopolinya untuk rute tertentu dengan menetapkan tarif penerbangan yang tinggi.
Dikatakannya, pasar transportasi udara adalah oligopoli. Beberapa rute memang dikuasai oleh satu pelaku usaha, sehingga hal ini berpotensi airlines tersebut menetapkan harga yang eksesif karena tidak ada pilihan atau alternaltif.
"Ketika tarif penerbangan naik tajam seperti saat ini, maka tetap saja dibeli. Padahal, tarif penerbangan yang mahal bukan saja menyulitkan konsumen, tetapi juga menjadi penyumbang inflasi. Perlu kiranya pengawasan terhadap perilaku pelaku usaha khususnya di rute yang hanya dikuasai oleh satu airlines,"ungkap Manaek Pasaribu kepada korankaltim.com, Selasa (16/8/2022).
Pihaknya pun telah melakukan diskusi dengan Bank Indonesia Perwakilan Balikpapan dan Bank Indonesia Perwakilan Kaltim mengenai pergerakan harga beberapa komoditi barang dan jasa yang mengakibatkan inflasi di Kaltim.
"Kedepannya kami akan meminta keterangan pelaku usaha airlines untuk mendapatkan data dan informasi terkait dengan kenaikan harga tiket khususnya rute tertentu yang hanya dioperasikan oleh satu airlines dan relevansinya dengan kenaikan avtur, " tegasnya.
Jika dibandingkan harga yang ditetapkan airlines sebelum kenaikan avtur, dengan pasca kenaikan avtur tersebut, terdapat kenaikan yang signifikan. " Perlu dikaji berapa persen kenaikan avtur ini mempengaruhi harga kenaikan tiket. Sebagai contoh tiket penerbangan Balikpapan ke Banjarmasin, saat ini hanya dioperasikan oleh satu airlines dengan harga yang mencapai Rp1, 6 juta oneway."urainya.
Jika dibandingkan dengan harga sebelum lanjut Manaek, kenaikan harga avtur masih kisaran dibawah Rp700-800 ribu."Kenaikan biaya avtur jangan sampai dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan yang eksesif. Perlu kiranya memperhitungkan daya beli masyarakat serta sama-sama memiliki sense of crisis untuk mendukung pemulihan ekonomi Indonesia. "tutupnya.
Penulis: Yudi Hadi
Editor: Maruly Zainuddin