Rumah berukuran sekira 10x12 meter per segi berwarna hijau itulah tempat kedua korban menimba ilmu.
Seorang pengasuh yayasan tersebut, U mengaku tidak mengetahui tuduhan yang menjerat RM, pengasuh yayasan tempatnya mengabdi.
"Saya sama sekali tidak tahu apa yang dituduhkan ke beliau (tersangka RM,Red), karena dua tahun saya di sini, habib (tersangka,Red) tidak pernah menginap di yayasan. Dia hanya datang mengantar uang belanja sebatas mengajar itu pun di luar kalau masuk ke dalam kamar tidak pernah," aku U yang saat itu didampingi ketua RT setempat.
Selain menjadi pengasuh yayasan, rupanya RM juga memiliki keahlian dalam bidang pengobatan tradisional. Di rumah yayasan itu, juga kerap dijadikan praktik pengobatan penyakit stroke.
"Kecuali kalau ada orang berobat, karena beliau juga sering mengobati orang stroke datang ke sini. Kalau ibu-ibu yang datang ke sini itu donator sama saya, tidak pernah ada berduaan," paparnya.
Dia menyayangkan laporan dugaan pencabulan dan persetubuhan tersebut. Apalagi kedua korban itu sudah sejak lama tidak berada di yayasan. "Seandainya ada pelecehan seksual kenapa tidak pada saat itu dilaporkan," tuturnya .
U menjelaskan bahwa kedua korban sudah meninggalkan rumah yayasan sejak Januari 2021 silam. "Kalau pelapor sebelum saya masuk sudah ada mereka, dia keluar bulan Januari 2021 sudah keluar, laporannya baru bulan Januari 2022 makanya saya kaget,"bebernya.
Kedua korban, kata U, tinggal di rumah yayasan dan meninggalkan rumah yayasan untuk korban berusia 15 sejak Januari 2021 sedangkan korban usia 11 tahun pada Juli 2021. "Jadi mereka keluar tidak berbarengan ,"katanya .
U memastikan bahwa selama dalam pengawasan para santri tidak diperkenankan ke luar rumah kecuali hanya di lingkungan yayasan saja. "Kalau pun mereka keluar, misal rekreasi ya sama saya didampingi tidak pernah ke luar sendiri," ucapnya.
Dalam proses pendidikan, lanjut U, para korban juga diberikan fasilitas pendidikan sekolah umum yang dibiayai oleh yayasan.
"Mereka sekolah di luar, di sini pendidikan agama, asramanya di sini. Kami menerima santri tanpa biaya sedikitpun, gak semua dari kami asli dari tersangka ini jadi saya batin menangis hancur sehancur-hancurnya karena yang kami makan ini hasil dakwah beliau. Sekarang habib sudah ditahan, uangnya dari mana lagi buat mengajar," tuturnya sambil menyeka air mata.
Dia menuturkan bahwa pasca kejadian tersebut proses belajar mengajar mengaji tetap dilaksanakan. "Kan yang mengaji di sini bukan hanya yang menginap di sini saja, anak-anak warga di sini juga banyak yang mengaji," tandasnya.
Penulis: Yudi Hadi
Editor: Supiansyah