Turut hadir Pimpinan Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, KH Jaelani Mawardi, pimpinan OPD lingkup Pemprov, Pemkot dan undangan lainnya.
Isran Noor mengatakan, pemberian santunan ini didasari pertimbangan berbagai hal tentang kemanusiaan, tanpa mengejar popularitas semata.
"Perlu saya ingatkan dan tegaskan, tidak mengejar popularitas, apalagi ingin minta dipuji atau disanjung masyarakat. Insya Allah tidak, dan kita semua ikhlas demi membantu anak-anak dalam kesusahan di masa pandemi ini," tandasnya.
Ditambahkannya, saat ini pemerintah telah memberi santunan 500 anak dan akan terus bertambah sampai pengumpulan data telah selesai. Santunan juga akan diberikan pertahap, mulai uang tunai sampai tanggungan belajar.
"Jadi totalnya lebih kurang se-Kaltim itu sekitar 500 an anak yatim piatu, tapi masih ada kemungkinan lagi divalidasi, lagi dilakukan konfirmasi. Jadi kita sudah memuat kebijakan untuk jangka pendeknya seperti ini, memberikan santunan kepada anak yatim piatu Rp 2 juta per anak, kemudian yang untuk jangka menengahnya kita jamin soal pendidikan sekolahnya sampai dengan SMA, jangka panjangnya membantu mereka mengikuti kuliah, perkuliahan di perguruan tinggi. Itu yang kita lakukan, itu sudah oke," paparnya.
Dalam kesempatan itu juga, Rahmad Mas'ud mengapresiasi atas perhatian Pemprov kepada anak yatim.
"Kami tentunya berterima kasih kepada Gubernur dan tentunya akan memberikan santunan kepada anak yatim piatu yang telah ditinggalkan orang tuanya tentunya, semoga apa yang dilakukan pemerintah kita, merupakan ikhtiar kita bersama dalam memerangi Covid-19 yang luar biasa," katanya.
Qabariah (37), ibu rumah tangga warga Gunung Pasir, Kota Balikpapan, mempunyai dua orang anak. Anak pertama Fika Wulansari yang berusia 8 tahun dan kedua Fatimah Az-zahra berusia 5 tahun. Kini mereka ditinggal sang ayah, yang meninggal dunia karena Covid-19.
"Saya berharap anak saya bisa ditanggung oleh pemerintah karena saya tidak bekerja kami masih tinggal sama orang tua, sama minta bantuan dari pemerintah, saya tidak minta apa-apa, saya minta untuk anak saya sekolah itu aja," ucapnya dengan sedih.
Penulis : Muhammad Rizieq
Editor : Bambang Irawan