Syamsul Ramli mengungkapkan dalam pertemuan tersebut menghasilkan surat kesepakatan untuk rekonsiliasi antar kedua belah pihak dilakukan dengan penuh kesadaran tanpa adanya unsur paksaan dari pihak mana pun juga, untuk memajukan IMI Kaltim bersama-sama.
”Selama kurang lebih lima tahun, IMI Kaltim polemik. Malam ini (Sabtu, Red), kami pastikan tidak ada lagi kisruh di kubu IMI Kaltim. Semua telah tuntas. Tidak akan ada lagi yang melihat ke belakang dan semua saling bergandengan tangan. Tujuannya demi memajukan IMI di kancah lebih tinggi. Utamanya membawa atlet menuju PON Papua,” ungkap Syamsul.
Setelah melebur menjadi satu kepengurusan IMI Kaltim, mereka akan fokus melakukan pembinaan atlet. Kurang lebih satu tahun, waktu untuk melihat kolaborasi keduanya dalam memajukan IMI hingga Musyawarah Provinsi (Musprov) dilaksanakan.
IMI Kaltim, memang bakal menggelar Musprov tahun ini, masa kepemimpinan Redy Asmara telah habis pada Desember 2020. Adanya PON Papua membuat, kepengurusan diperpanjang. ”Untuk Musprov diputuskan oleh Ketua IMI Pusat. Usulannya bisa sebelum atau sesudah PON Papua,” ujarnya.
Elvis Junaedi mengaku rekonsiliasi tersebut merupakan kemajuan IMI Kaltim untuk berkiprah lebih jauh dalam pengembangan organisasi dan atlet." PP IMI ingin IMI Kaltim solid bersama KONI Kaltim untuk membina dan mensupport para pebalap Bumi Etam untuk menang di PON Papua, Oktober mendatang,"timpalnya.
Sementara Redy Asmara menambahkan kesepakatan tersebut dilakukan untuk kemajuan IMI Kaltim khususnya dalam pembinaan para atlet mengingat potensi atlet di Kaltim banyak. ”Pada intinya demi kemajuan IMI. Dan tentunya membawa atlet menuju PON Papua,“ katanya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Aminullah yang mana momen ini memang sangat ditunggu-tunggu agar polemik dualisme diakhiri. Dia pun berharap, ke depan tidak ada lagi keributan. ”Semoga ini menjadi awal kebangkitan dan kemajuan IMI Kaltim,” tandasnya.
Penulis : Yudi Hadi
Editor : Bambang Irawan