“Memang, selama ini Balikpapan tidak melakukan ekspor produknya sendiri, tapi ekspor dari daerah sekitar yang melalui Balikpapan seperti batubara, CPO sawit dan produk turunannya termasuk cangkang sawit,” kata Philipus Rimpa (21/10).
Komoditas tersebut yang paling banyak di ekspor ke Tiongkok sesuai dengan Surat Keterangan Asal atau SKA. “Cangkang sawit itu mereka jadikan bahan furniture dan dikirim dari sini, dari Indonesia,” ujarnya.
Dinas Perdagangan, lanjut Rimpa, telah berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan karena adanya informasi kalau Tiongkok juga kerap mendatangkan tanaman jahe dari Sumatera untuk dijadikan obat-obatan.
“Balikpapan sebenarnya punya potensi untuk ekspor rempah-rempah. Ya, meski lahan tak terlalu subur, rempah-rempah kan tetap bisa dibudidayakan dengan teknologi pertanian,” ucapnya.
Hanya saja minimnya minat investor itu diakui Dinas Perdagangan karena kurang beragamnya komoditas ekspor pada kota yang bergerak dalam bidang industri, perdagangan, jasa dan pariwisata ini. “Untungnya, daerah lain mengekspor komoditasnya melalui kota kita, jadi juga dapat kontribusinya,” tutur Rimpa.
Sebelumnya, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalimantan Timur, Slamet Brotosiswoyo menyampaikan, bahwa nilai ekspor Benua Etam masih bagus karena surplus.
“Ditambah lagi harga batubara dan minyak dunia sedang menguat. Ini peluang bagus untuk dimanfaatkan,” kata Slamet Brotosiswoyo.
Pasalnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, neraca perdagangan Kalimantan Timur mengalami surplus USD0,86 miliar pada Agustus 2018. Meski nilai neraca itu lebih kecil jika dibandingkan Juli 2018 yang mencapai USD1,30 miliar.
“Momentum ini harus dimanfaatkan eksportir migas, batubara dan minyak sawit. Walau semua bergantung pada komitmen negara pembeli untuk menaikan jumlah komoditas yang mereka impor,” tutupnya. (hn)