“Ini menjadi salah satu sektor prioritas yang ditangani Bekraf dari hulu sampai ke hilir. Jadi sebelum menjadi start up, kami lakukan pendampingan sampai jadi produknya, termasuk modal dalam membangun start up,” kata Hari Santosa Sungkari (7/10).
BDD yang diikuti mahasiswa, akademisi dan pelaku pembuatan start up juga diharapkan dapat membentuk ekosistem digital sehingga bermanfaat bagi masyarakat lokal. Potensi itu pun harus didukung secara konsisten agar para pelaku dapat meningkatkan kompetensi di subsektor aplikasi, game dan web serta Internet of Things atau IoT.
“Kami ingin talenta-talenta dan produsen-produsen baru bermunculan dan aplikasi yang berkualitas bisa menggerakan perekonomian nasional melalui ekonomi kreatif digital di kota Balikpapan,” harapnya.
Pasalnya, ekonomi kreatif diyakini terus bertumbuh dan sumbangan pada Produk Domestik Bruto (PDB) ditarget mencapai lebih dari Rp1.000 triliun pada tahun ini. Mengingat 28 persen populasi penduduk Indonesia atau sekitar 64 juta orang merupakan generasi muda dengan rentang usia 15 sampai 29 tahun.
“Memang ada 3 kendala yakni kebijakan pemerintah, pendanaan dan talenta. Khusus di kebijakan pemerintah, masih ada pekerjaan rumah yakni bagaimana memberikan insentif bagi para pelaku start up. Tapi kini ada beberapa start up yang sudah go public,” ujarnya.
Sehingga Bekraf menginginkan agar pemerintah membantu meyakinkan calon investor bahwa start up adalah industri yang menjanjikan. “Kalau hak cipta itu mudah didapatkan, yang agak berproses cukup lama adalah mendapatkan merek dagang,” ungkap Hari.
Di lokasi yang sama, Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi menyampaikan bahwa tahun depan adalah tahun kreativitas dan dirinya berencana menjadikan Gedung Parkir Klandasan sebagai gedung kreatif.
“Pemkot juga akan bekerja sama dengan Bank Kaltimtara untuk mengarahkan dana bergulir agar industri start up bisa bergerak dan tumbuh di kota Balikpapan,” ujar Rizal Effendi.
Dirinya juga ingin kota ini menjadi pusat ekonomi kreatif karena akses yang lebih baik dari daerah lainnya. Sekaligus menjadi role model di Kalimantan Timur.
“Jadi tidak melulu mengandalkan sumber daya alam. Tidak sekadar menjadi Orang Kaya Baru (OKB) tapi tumpul kreativitasnya. Dulu kan banyak, tanah dieksplorasi dan dapat batubara, lalu jadi OKB,” tuturnya.
Tak hanya itu, Wali Kota Balikpapan dua periode ini juga mengharapkan adanya sumbangsih dari perusahaan melalui CSR agar industri start up bisa tumbuh dan berkembang. Terlebih dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 dalam tren otomasi dan pertukaran data terkini.
“Jangan terlalu mengharapkan APBD karena belum tentu bisa selaras pola pikir dan pemahaman di birokrasi pemerintahan dan DPRD,” tutup Rizal. (hn)