“Kredit pada bulan yang sama juga tumbuh meski melambat bila dibandingkan periode sebelumnya untuk semua jenis penggunaan,” kata Suharman kepada Koran Kaltim (26/9).
Rinciannya, untuk Kredit Modal Kerja dari 3,16 persen menjadi 1,50 persen, Kredit Konsumsi dari 5,22 persen menjadi 4,98 persen dan Kredit Investasi juga melambat dari 6,59 persen menjadi 5,97 persen.
Sementara untuk pertumbuhan aset meningkat 6,03 persen pada Juli 2018 menjadi 10,20 persen di Agustus 2018. Kalau DPK tercatat naik menjadi 7,17 persen menjadi 8,15 persen. Tren kredit yang sedikit melambat dari 4,91 persen menjadi 4,07 persen.
“Faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi diantaranya peningkatan kapasitas produksi Pertamina RU V Kalimantan. Kinerja pertambangan juga diperkirakan meningkat karena peningkatan produksi dan membaiknya harga batubara,” urainya.
Tak hanya itu, kinerja perhotelan dan restoran juga membaik. “Itu tercermin dari peningkatan okupansi hotel dan perbaikan daya beli. Apalagi membaiknya harga batubara turut menjadi indikator,” jelasnya.
BI optimistis perekonomian Indonesia masih kuat dan berdaya tahan karena melihat perkembangan keuangan di kota Balikpapan yang relatif stabil. Ditambah lagi inflasi yang rendah serta terjaga.
“Kami di BI selalu mewaspadai berbagai risiko yang mungkin timbul di tengah ketidakpastian perekonomian global seperti yang terjadi di Argentina dan Turki,” pungkas Suharman. (hn)