“Beralihnya penanaman lahan mereka juga ada yang dengan metode tumpang sari. Mulai dari menanam sayuran sampai ke buah salak dan jambu air serta jambu kristal,” kata Arbainsyah, Rabu (27/6).
Pasalnya, petani tidak mampu bertahan lama melakukan pemeliharaan buah naga. Mengingat serangan hama yang menjatuhkan kualitas panen. “Kondisi ini sudah terjadi sejak tiga tahun terakhir. Jadi petani beralih karena ketiga buah itu lebih tahan hama. Selain juga nilai jualnya yang lumayan,” ujarnya.
Saat ini ada 39 kelompok tani aktif dari 52 kelompok yang ada di Karang Joang dan luasan lahan yang ditanami, juga banyak yang menggunakan metode tumpang sari. Sehingga bisa digunakan untuk menanami lebih banyak jenis pohon buah kecuali pohon karet.
“Bisa kita lihat di perkebunan dari kilometer 21 sampai kilometer 28, produksi jambu kristal sampai salak meningkat drastis. Permintaan konsumen juga tinggi di tingkat lokal sampai masuk ke supermarket,” sebutnya.
Menurutnya, petani di Karang Joang cukup kreatif dalam melihat dan memanfaatkan peluang di tengah merosotnya permintaan buah naga. “Mereka cepat beralih begitu produksi buah naga turun karena serangan hama,” tukasnya.
Sedangkan petani buah naga yang memilih bertahan, lanjut Arbainsyah, sedang tengah berupaya mengatasi serangan hama. “Mereka sudah mendapat pendampingan dari Dinas Pertanian,” tutupnya. (hn518)