“Jangankan membeli perhiasan emas, mau beli barang lainnya saja, orang-orang sudah merasa susah. Ekonomi lagi sulit,” kata Kanna, ditemui Jumat (8/6).
Kurang baiknya transaksi perhiasan emas ini, lanjut Kanna, berbanding terbalik saat mendekati lebaran pada tahun lalu. “Biasanya kami sudah panen pembeli. Tapi lihat saja sekarang, tidak ada yang ke sini,” ujarnya.
Yang dirasakan Kanna itu juga dibuktikan dengan tutupnya beberapa toko perhiasan. Terlihat hanya 2 toko saja yang buka, yakni Sejati dan Melati.
Kanna berpendapat, lesunya transaksi karena berdekatan pula dengan musim penerimaan siswa baru sekolah dan juga pelaksanaan Pemilukada serentak. Sehingga banyak orang yang lebih menyimpan uangnya ketimbang berbelanja perhiasan.
“Perekonomian sekarang tidak terlalu berjalan karena mereka berpikir lebih baik menyimpan uang di bawah kasur, atau disimpan di lokasi lainnya. Apalagi saat ini tahun politik,” sebut Kanna yang berjualan sudah 35 tahun berjualan perhiasan emas.
Omzet yang diterimanya pun sangat menurun lebih dari 50 persen. “Paling sehari laku 20 sampai 30 gram saja. Kalau dulu bisa ratusan gram untuk berbagai jenis perhiasan emas, harganya juga naik dari Rp450 ribu jadi Rp510 ribu per gram,” tukas Kanna.
Tak hanya transaksi perhiasan emas, penjualan batu akik dan batu mulia laimnya juga tampak sepi. Para pedagang tampak hanya duduk-duduk saja di tokonya atau pun berbincang dengan pedagang lainnya. (hn518)