“Kami melihat sudah ada pengajuan penerbangan tambahan atau ekstra flight dari pihak maskapai, dengan dominasi daerah tujuan diantaranya Jakarta, Surabaya dan Ujungpandang,” kata Handy.
Sedangkan untuk potensi keterlambatan penerbangan atau delay, menurutnya karena berbagai kondisi mulai dari teknis operasional maskapai maupun kondisi alam. “Seperti gunung meletus yang terjadi waktu lalu di Yogjakarta, sehingga mengakibatkan delay di beberapa bandara,” ungkapnya.
Adanya pembentukan posko terpadu bertujuan, agar faktor-faktor seperti disebutkan di atas, sudah diantisipasi sejak awal. Pasalnya, komunikasi dan koordinasi antar bandara bisa dilakukan lebih cepat. Termasuk untuk faktor keamanan lainnya.
Berdasarkan data yang dimiliki Angkasa Pura I, dalam satu hari ada 23 penerbangan dengan tujuan Jakarta dan 18 penerbangan ke Surabaya. Berbeda dengan layanan kargo yang justru diprediksi mengalami penurunan.
“Saya tidak hapal persentase penurunannya. Tapi yang pasti, ada batas maksimal pesawat untuk take off. Kalau penumpangnya penuh, biasanya kargo menurun karena maskapai lebih memprioritaskan untuk menerbangkan penumpangnya. Mudah-mudahan kargo tidak turun drastis,” harap Handy.
Adapun maskapai yang telah mengajukan ekstra flight diantaranya Sriwijaya Air dengan 6 penerbangan, Lion Air dengan 5 penerbangan dan Wings Air yang mengajukan 2 penerbangan.”Kalau lebaran tahun lalu kami mencatat sebanyak 3.434 pesawat dengan total penumpang mencapai 421.207 orang,” demikian Handy. (hn518)