Namun adanya moratorium perluasan lahan perkebunan turut menghambat laju bisnis kelapa sawit. Sehingga untuk bertahan maka dilakukan kerjasama dengan kebun mitra dan petani sawit plasma.
“Kalau pun ada perluasaan, ya caranya dengan take over yakni membeli kepada perusahaan yang menjual perkebunannya. Itu satu-satunya jalan,” ujarnya.
Menurutnya, moratorium akibat dampak kampanye hitam negara-negara di Eropa itu berpengaruh terhadap biaya, karena semakin tahun upah minimum pekerja mengalami kenaikan sedangkan harga CPO (Crude Palm Oil), relatif stagnan. “Kampanye hitam itu, dampaknya sampai terhadap jenjang karir karyawan. Karena ketika perusahaan tumbuh dan berkembang, maka karir karyawan seharusnya juga meningkat,” ujarnya.
Sehingga untuk tetap tumbuh, Astra Agro Lestari meningkatkan volume penjualan melalui pembelian CPO eksternal. Sedangkan target Tandan Buah Segar (TBS) sebanyak 25 ton per hektare per tahun.
“Sekali lagi, ini berkaitan dengan moratorium karena logikanya kalau mau banyak hasil maka harus banyak yang ditanam. Sehingga meningkatnya produksi CPO dipengaruhi produktivitas sawit di kebun inti dan kebun plasma sebagai penghasil TBS,” ungkapnya.
Tahun lalu, Astra Agro Lestari mampu meningkatkan produksi CPO dari 1,544 juta ton pada 2016 menjadi 1,634 juta ton pada 2017 karena adanya peningkatan produktivitas perkebunan baik inti, plasma dan kebun mitra. (hn518)