“Kami pernah meminta ke Rudenim dan IOM (International Organization for Migration), agar pengungsi dibina terkait dengan pelaksanaan ibadah kalau mereka itu muslim,” kata Sekretaris MUI Balikpapan, HM Jailani, kepada wartawan, Rabu (9/5).
MUI sempat menanyakan kepada Kepala Rudenim mengenai pembinaan pengungsi, yang ingin mencari suaka ke negara pihak ketiga. Ternyata di penampungan pengungsi itu, terdapat musala untuk mereka beribadah.
“Kita juga melihat langsung melalui kamera pengawas dan tidak ada aktivitas ibadah yang dilakukan. Bahkan tidak ada salat Jumat yang mereka lakukan. Sepanjang sepengetahuan kami alirannya Syiah,” ujarnya.
Sehingga untuk memberikan pemahaman mengenai Islam yang sesuai dengan aliran Sunni, lagi-lagi MUI kesulitan karena ketiadaan ustaz yang mampu berbahasa Persia. “Kalau ustaz yang bisa bahasa Inggris sih ada saja, tapi nggak banyak juga. Bisa saja kami membantu kalau terkait persoalan ibadah bahkan siap menjadi imam salat,” terangnya.
Sebelumnya, Wakil Ketua DPRD Balikpapan, Sabaruddin Panrecalle, Senin (7/5) lalu menyarankan, agar MUI mengirim ustaz dan ahli agama untuk pengungsi di Rudenim. Alasannya, pengungsi beraliran Syiah itu sulit diterima masyarakat muslim di kota ini, yang mayoritas Sunni.
“Tidak menutup kemungkinan jika mereka berubah, diIslamkan lagi, maka bisa saja akan diterima masyarakat,” kata Sabaruddin.
Selain itu, sebanyak 66 pengungsi dalam waktu dekat ini akan dipindahkan ke Rudenim Tanjungpinang di Kepulauan Riau. Pemindahan itu dilakukan secara bertahap, seraya menunggu negara pihak ketiga yang mau menerima pencari suaka tersebut. (hn5518)