Angka itu meningkat, dibanding dengan tahun 2015 hanya mencapai 5,95 persen, atau sekira 16 ribu jiwa.
“Kalau angka pengangguran diambil sampel oleh BPS, nah kita di Balikpapan, cukup nomor dua tertinggi untuk angka penganggurannya. Di 2016 hanya sekitar 16 ribu di tahun 2016,” kata Tirta, Senin (22/1).
Menurut Tirta, tingginya angka pengangguran di Balikpapan, disebabkan angka pengangguran itu, dihitung dari jumlah penduduk di Balikpapan, yang belum bekerja.
“Selain karena perlambatan laju perekonomian di Kaltim, juga karena perhitungan angka pengangguran itu dari jumlah penduduk di Balikpapan. Bukan hanya warga Balikpapan. Lainnya, juga karena Balikpapan adalah kota terbuka dan strategis untuk mencari kerja,” jelasnya.
Meski demikian, Disnaker berharap dengan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) kilang Balikpapan, dapat menyerap tenaga kerja yang besar. Baik itu tenaga kerja yang ahli maupun tidak. Sebab, dalam proyek itu diperkirakan akan membutuhkan 25 ribu pekerja, dan diharapkan ikut mengurangi angka pengangguran
“Proyek nasional suatu keberuntungan untuk kota Balikpapan. Ada 25 ribu (orang) dibutuhkan untuk proyek itu. Warga Balikpapan segera manfaatkan seluas-luasnya dengan peluang ini. Kalau kita tidak bisa memanfaatkan jangan sampai termarginalkan,” jelasnya.
Karena itu, Pemkot lanjutnya, mendorong kepada pencari kerja untuk memperhatikan, dan mengambil peluang kerja ini.
“Upaya kami pertama pelatihan untuk masyarakat ber-KTP Kaltim dari BLK dan Pertamina. Kemudian memberikan informasi sejelas-jelasnya ke masyarakat, siapkan diri baik skill dan non skill, karena begitu banyak dampaknya untuk pencari kerja,” tutup Tirta. (din)