Nelayan Pesisir Kesulitan Jual Hasil Tangkapan


korankaltim
korankaltim
Koran Kaltim     1 minggu yang lalu     116 kali
img Ilustrasi nelayan

TANA TIDUNG- Nelayan di kawasan pesisir yakni dari Desa Menjelutung, Bandan Bikis, Bebatu Supa, Bebatu Kebun dan Desa Sengkong di Kecamatan Sesayap Hilir termasuk yang ada di desa-desa di Kecamatan Tana Lia mengaku kesulitan untuk memasarkan hasil tangkapan mereka.

Selama ini mereka memasarkan hasil perikanan secara swadaya, padahal hasil perikanan dari kawasan pesisir cukup lumayan, akan tetapi karena sulitnya pemasaran hanya bisa dijual di kawasan sekitar saja.

Salah satu nelayan di Desa Bebatu Supa, Bahar pada Rabu (7/2) kemarin mengatakan hasil perikanan dari kegiatannya turun melaut setiap pekannya kerapkali hanya untuk dijual pada warga sekitar saja. Kalau hasilnya banyak biasanya akan menjual ke Desa Tideng Pale di Kecamatan Sesayap mengingat banyaknya permintaan di perkotaan.

“Lumayan menjual ke Tideng Pale sebab banyak saja yang membeli disana karena sedikit saja hasil sungai sehingga kalaupun ada harganya sangat mahal makanya ini menjadi kesempatan bagi kami nelayan untuk mendapatkan keuntungan meskipun kecil yang penting ada saja,” ungkapnya.

Menurutnya, dengan kebiasaan menjual hasil yang diperoleh mereka ini minimal nelayan ini harus mengeluarkan biaya operasional untuk membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) sehingga diperlukan hasil melebihi dari 30 Kilogram (Kg) supaya bisa menebus beban biaya BBM yang harus ditanggungnya.

Memasarkan hasil secara swadaya cukup memberatkan dan tidak setiap hari akan habis terjual. “Kami sangat mengharapkan setiap hasil perikanan yang kami peroleh bisa ditampung di lembaga seperti Koperasi perikanan yang akan memudahkan bagi nelayan memasarkan hasilnya dengan harga yang sepadan pula, sebab berjualan ke Desa lainnya terutama di kawasan perkotaan tentunya membutuhkan beban biaya BBM yang cukup tinggi sehingga keuntungan pun sangat tipis dan ini tidak sesuai dengan jerih payah kami mengumpulkan hasilnya selama beberapa hari di sungai,” jelasnya.

Diakuinya, untuk persediaan BBM sekali turun melaut dibutuhkan 20 liter di kawasan sungai sekitar sementara untuk melaut ke kawasan yang lebih jauh lagi dibutuhkan antara 35 liter sampai 40 liter, dan ini belum termasuk biaya untuk umpan, kebutuhan makan jadi ketika hasil laut tak seberapa diterima tentu saja nelayan ini harus menelan kekecewaan.

“Jarang sekali bisa dapat banyak, kalau mau menjual ke Ibukota Kabupaten, Tideng Pale minimal membawa 30  Kg keatas supaya dapat menutup seluruh biaya-biaya yang dikeluarkan saat melaut, berbeda jika ada koperasi lokal yang bisa memudahkan kami menjual hasil dan kami pun tidak perlu membawa jauh-jauh untuk berjualan,” harapnya. (ifa)



baca LAINNYA