Kepala DLH Balikpapan Suryanto mengatakan, langkah hukum harus diambil karena pencemaran perairan teluk berkali-kali terjadi sehingga harus ada pihak yang bertanggung jawab.
“Kita nggak mau Teluk Balikpapan ini sudah diserang minyak yang besar, diserang lagi yang kecil berkali-kali. Lama-lama nanti rusak juga,” kata Suryanto, Senin (30/7).
Sehingga adanya upaya hukum itu untuk memberikan efek jera bagi pihak yang bertanggung jawab maupun bagi yang beraktivitas di Teluk Balikpapan. “Sampel sudah diuji baik oleh Penegakan Hukum dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Gakkum KLHK) maupun oleh DLH sendiri,” ujarnya.
Hasil sampel yang diuji Gakkum KLHK dan DLH akan menjadi acuan untuk proses selanjutnya. “Kalau hasil DLH, spesifik gravitasi minyak itu antara 0,9 sampai 1,0. Sedangkan kepekatan dan berat jenis minyak itu ada lima kriteria,” ucapnya.
Lima kriteria yang dimaksud mantan Kepala Bappeda ini, mulai dari ringan, sedang, berat sampai ke sangat berat sekali. “Nah, minyak ini masuk ke kriteria berat sekali,” sebutnya.
Sehingga dipastikan minyak yang mencemari hingga ke pesisir Pantai Melawai merupakan minyak mentah atau crude oil. Namun berbeda dengan jenis minyak yang biasa diolah oleh Pertamina.
“Yang dimasak Pertamina itu spesifiknya 0,8 dan yang ditemukan tempo hari poinnya 0,9. Tapi ini, sekali lagi, hanya untuk pembanding. Sumbernya belum diketahui,” ungkapnya.
DLH tetap menanti hasil penelitian dari Gakkum KLHK. “Pertamina juga diperiksa, tapi untuk asal muasalnya paling akurat bisa diketahui melalui citra satelit,” tambahnya.
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), kata Suryanto, juga telah ke Balikpapan meski untuk mendelineasi kondisi cemaran minyak yang terjadi pada 31 Maret lalu. Meski DLH juga meminta agar Lapan meneliti tumpahan minyak yang terjadi pada Jumat dan Senin lalu.
“Kami minta juga dikirimkan yang baru-baru kemarin agar bisa diketahui sumber minyaknya. Mudah-mudahan ada pentunjuk mengarah ke satu kapal atau apa gitu, supaya kita bisa menjurus ke sana,” harapnya.
Jumat, 20 Juli lalu, Pantai Melawai dicemari minyak berwarna hitam pekat dan menimbulkan aroma menyengat. Pihak Pertamina langsung melakukan proses pembersihan di kawasan tersebut.
Namun, Senin 23 Juli, cemaran minyak kembali terjadi. Bahkan dengan volume yang lebih besar. Hanya saja hingga kini, sumber dari minyak mentah itu masih misterius. (hn518)