Senin, 30/07/2018

TRADISI BELIMBUR TUTUP ERAU ADAT KUTAI

Senin, 30/07/2018

Foto : reza-heri/korankaltim.com

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

TRADISI BELIMBUR TUTUP ERAU ADAT KUTAI

Senin, 30/07/2018

logo

Foto : reza-heri/korankaltim.com

TENGGARONG – Prosesi Mengulur Naga dan Belimbur menjadi penutup perhelatan Erau Adat Kutai dan 6th International Folk Arts Festival (EIFAF) 2018, di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Minggu (29/7).

Prosesi Mengulur Naga merupakan ritual sakral, yang dipusatkan di Kedaton Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan Museum Mulawarman. 

Setelah ritual Mengulur Naga ke Kutai Lama selesai dilakukan, Putra Mahkota Kutai AP Praboe Anoem Soerja Adiningrat memercikkan Air tuli, menandakan Belimbur dimulai.

Ribuan masyarakat tumpah ruah mengikuti tradisi dengan makna membersihkan diri dari pengaruh jahat. 

Festival adat yang diselenggarakan sejak 21-29 Juni ini diikuti tujuh negara anggota International Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Art (CIOFF), seperti Hongaria, India, Turki, Polandia, Romania, Meksiko, dan tuan rumah Indonesia. 

EIFAF 2018  merupakan festival adat dan internasional tahun keenam yang berhasil dipadupadankan oleh Pemkab Kutai Kartanegara dengan menghadirkan delegasi kesenian internasional. Hasil kerja sama  pemangku kepentingan di Kutai Kartanegara dengan CIOFF. 

“Sejak awal Erau ini sudah menjadi agenda nasional. Masyarakat hadir dari daerah mana saja untuk menyaksikan upacara adat Erau,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kutai Kartangeara, Sri Wahyuni.

Keterlibatan negara asing dalam Erau bukan tanpa alasan. Pemkab Kutai Kartanegara berkeinginan agar hadirnya kelompok kesenian mancanegara itu bisa mengenalkan Indonesia, khususnya Kutai Kartanegara di mata dunia. 

“Banyak juga mereka yang baru pertama kali datang ke Indonesia, jadi mereka melihat Indonesia dari Kutai Kartanegara. Nah, kita lah di sini, Kutai Kartanegara menjadi Duta Wisata Indonesia,” tegasnya. 

Plt Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah berkata, upacara paling ikonik dari dari upacara Erau itu tidak hanya dikenal luas oleh masyarakat di Kalimantan Timur, tetapi juga secara nasional, terlebih Erau telah menjadi festival budaya terpopuler di tanah air pada Anugerah Pesona Indonesia 2016 lalu. 

“Saya atas nama Pemerintah Kabupaten dan masyarakat Kutai Kartanegara, memberikan apresiasi yang tulus dan dengan hormat, atas kerja sama yang baik dengan pihak kerabat Kesultanan dalam upaya bersama melestarikan adat istiadat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang harus terus dijaga dan dipelihara,” kata Edi.

DISELIMUTI DUKA

Tradisi Mengulur Naga dan Belimbur kemarin menyisakan duka bagi warga Tenggarong. 

Seorang bocah, Rafi Al Fitrah (12) menjadi korban dalam upacara puncak Erau itu. 

Bocah kelas 6 SD itu tenggelam saat hendak mengambil air untuk Belimbur, di Dermaga Museum Mulawarman, tempat yang menjadi pusat prosesi Mengulur Naga dan Belimbur di acara penutupan Erau. 

Menurut Rayhan, rekan korban, ia bersama Rafi dan empat temannya datang ke Dermaga Museum Mulawarman untuk melihat prosesi Belimbur.  “Pas terpeleset saya melihat kaki Rafi ditarik seseorang,” ujarnya. 

Narti, ibu korban histeris mengetahui anaknya tenggelam. Warga Jl Mangkuraja Tenggarong ini bahkan sempat tak sadarkan diri. Seorang warga juga bahkan sempat kesurupan saat proses pencarian sedang berlangsung. 

Jasad korban berhasil ditemukan sekitar lima jam setelah kejadian oleh Tim SAR Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Arus dasar sungai yang diperkirakan mencapai 7 knot mempersulit pencarian. “Korban ditemukan sekitar 10 meter dari lokasinya dilaporkan terjatuh,” kata koordinator pencarian, A Sudirman. 

Kapolsek Tenggarong IPTU Trijadi menjelaskan,  Rafi tenggelam karena terpeleset saat menonton Belimbur. “Korban memang tidak bisa berenang,” katanya kepada Koran Kaltim.

Sebenarnya, kata Trijadi, korban tak pernah bermain jauh dari rumahnya. Ia juga diketahui tidak pamit kepada orang tuanya untuk menonton penutupan Erau.  Korban dan lima temannya datang Dermaga Museum Mulawarman menggunakan sepeda. (hei/rf218/ami)


TRADISI BELIMBUR TUTUP ERAU ADAT KUTAI

Senin, 30/07/2018

Foto : reza-heri/korankaltim.com

Share

Berita Terkait